Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investasi Hulu Migas Masih Jauh dari Target, Apa Penyebabnya?

Realisasi investasi hulu migas belum mencapai 50 persen dari target periode 2021 sampai dengan paruh pertama tahun ini.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 20 Juli 2021  |  15:53 WIB
Pekerja melakukan pengawasan di proyek Grati Pressure Lowering yang dilakukan oleh Ophir Indonesia (Sampang) Pty. Ltd., Jawa Timur. Istimewa / Dok. SKK Migas
Pekerja melakukan pengawasan di proyek Grati Pressure Lowering yang dilakukan oleh Ophir Indonesia (Sampang) Pty. Ltd., Jawa Timur. Istimewa / Dok. SKK Migas

Bisnis.com, JAKARTA — Investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi sepanjang semester I/2021 masih tercatat jauh di bawah target tahun ini.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi mencatat realisasinya bahkan masih di bawah 50 persen dari target.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto memaparkan sepanjang Januari — Juni 2021, investasi hulu migas tercatat baru mencapai US$4,92 miliar atau 39,7 persen dari target investasi tahun ini U$12,38 miliar.

"Investasi sejujurnya saat ini betul-betul di samping adanya isu EBT, beberapa pemain migas konsentrasi pada portofolio masing-masing sehingga ini jadi tarik menarik untuk buat iklim yang kompetitif," katanya dalam paparan yang digelar baru-baru ini.

Dwi menuturkan, untuk membuat iklim investasi lebih kompetitif, SKK Migas mengusulkan sembilan paket insentif untuk kontraktor migas. Sebanyak enam dari sembilan usulan tersebut telah disetujui pemerintah.

Adapun, penundaan biaya abandonment and site restoration (ASR), pengecualian PPN LNG, pembebasan biaya pemanfaatan barang milik negara untuk kegiatan hulu migas, penundaan atau pengurangan pajak-pajak tidak langsung, penerapan volume gas yang dapat dijual dengan harga market untuk semua skema di atas take or pay dan daily contract quantity, serta penerapan insentif investasi telah mendapat persetujuan.

Sementara itu, tiga paket insentif yang sedang dalam tahap pembahasan adalah pemberian tax holiday untuk pajak penghasilan di semua wilayah kerja migas, penyesuaian biaya pemanfaatan kilang LNG Badak sebesar US$0,22 per MMbtu, dan dukungan dari kementerian yang membina industri pendukung hulu migas terhadap pembahasan pajak bagi usaha penunjang kegiatan hulu migas.

"Buat iklim investasi jadi kompetitif ini jadi pembahasan baik di SKK Migas maupun di Kementerian ESDM," ungkapnya.

Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengatakan industri hulu migas mendapatkan tekanan terkait dengan isu pengurangan karbon. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah sorotan untuk kegiatan hulu migas.

SKK Migas, lanjut dia, masih akan terus mengakomodisasi investasi-investasi baru. Namun, hal itu masih sangat bergantung terhadap kebijakan-kebijakan dari perusahaan migas yang memiliki skala besar.

"Kalau dia shifting ke EBT ini investasi hulu juga bisa turun. Kami dari 2021 — 2022 kejar terus investasi hulu jangan melambat ketika dia mau invest kami harus bisa entertain, kalau tidak nanti bisa lari investasi itu ke yang lain, ke EBT ini salah satu tantangan 10 tahun kedepan," jelasnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi migas minyak skk migas energi terbarukan
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top