Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penerbangan Asia Butuh 3 Tahun untuk Pulih dari Pandemi

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menuturkan diperlukan waktu hingga 2024 untuk perjalanan udara internasional di seluruh wilayah Asia untuk mencapai tingkat sebelum pandemi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 15 Juli 2021  |  15:34 WIB
Pesawat superjumbo Airbus A380 Singapore Airlines saat berada di Bandara Changi, 11 November  2010. - Reuters/Tim Chong
Pesawat superjumbo Airbus A380 Singapore Airlines saat berada di Bandara Changi, 11 November 2010. - Reuters/Tim Chong

Bisnis.com, JAKARTA - Perjalanan udara Asia mungkin memerlukan tiga tahun lagi untuk pulih sepenuhnya dari pukulan yang ditimbulkan oleh pandemi, tertinggal dari rebound di wilayah lain.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menuturkan diperlukan waktu hingga 2024 untuk perjalanan udara internasional di seluruh wilayah untuk mencapai tingkat sebelum pandemi. Demikian pula, konsultan Energy Aspects mengatakan konsumsi bahan bakar jet akan mencapai volume prapandemi pada 2023-2024.

Garis waktu yang berlarut-larut itu menyoroti kesulitan yang dihadapi Asia dan kemungkinan konsekuensi untuk bahan bakar jet, bagian yang secara tradisional dihargai dari pasar produk minyak.

Rendahnya tingkat vaksinasi di banyak negara, tantangan yang ditimbulkan oleh varian delta yang menyebar cepat, dan penguncian yang terus-menerus telah menghambat pemulihan bahkan ketika Amerika Serikat dan Eropa terus maju.

Semua itu berarti industri penerbangan Asia tidak mungkin menawarkan dukungan signifikan kepada kilang-kilang minyak di kawasan itu, yang memproses minyak mentah dari Timur Tengah dan tempat lain menjadi bahan bakar.

Baik Amerika Utara dan Eropa telah melihat permintaan yang kuat selama liburan, dengan Uni Eropa melonggarkan persyaratan karantina dan penguncian, menurut Mayur Patel, direktur penjualan regional untuk Jepang dan Asia Pasifik di OAG, sebuah perusahaan analitik penerbangan.

“Sayangnya, hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk Asia, di mana tingkat vaksinasi yang rendah, penguncian yang tiba-tiba dan tajam, dan peraturan yang tidak konsisten menggagalkan upaya pemulihan yang sebenarnya,” katanya, dilansir Bloomberg, Kamis (15/7/2021).

Minggu ini, Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, melampaui penghitungan kasus harian India, menandai pusat baru untuk varian delta yang sangat menular. Di tempat lain, Malaysia telah berjuang untuk menahan wabah baru-baru ini, Seoul di Korea Selatan telah memberlakukan pembatasan terberatnya, dan Jepang sedang bersiap untuk menjadi tuan rumah Olimpiade tanpa penonton.

Meskipun ada tanda-tanda beberapa negara termasuk Singapura sedang memikirkan kembali pendekatan menekan penularan hingga nol, perjalanan internasional di kawasan ini kemungkinan masih akan memakan waktu lebih lama daripada negara-negara lain di dunia untuk kembali lepas landas.

Rencana Australia untuk meluncurkan gelembung perjalanan bebas karantina dengan Singapura sekarang lebih mungkin terjadi hanya pada akhir tahun, menurut seorang diplomat Australia.

"Kami mengharapkan lalu lintas penumpang untuk Asia-Pasifik internasional dimulai paling cepat pada awal 2022,” kata juru bicara IATA.

Dia melanjutkan pihaknya tidak berpikir bahwa situasi varian akan membaik, sehingga pemerintah tidak mungkin mulai mencabut kontrol sebelum vaksinasi menjadi cukup luas untuk membatasi penularan masyarakat.

Itu berarti perjuangan yang lebih panjang untuk industri penyulingan minyak Asia. Mengingat pemulihan yang berbeda, beberapa prosesor telah berupaya memasok ke ke Eropa dan AS.

Dengan permintaan yang lesu, margin untuk membuat bahan bakar jet di Asia telah turun menjadi US$5,99 per barel pada penutupan Rabu dibandingkan dengan us$15,54 pada Desember 2019.

Penggunaan bahan bakar jet Asia menyumbang sepertiga dari konsumsi global pada 2019, menurut Energy Aspects. Saat ini, jumlah penerbangan keseluruhan di kawasan itu, baik domestik dan internasional, adalah 70 persen dari tingkat prapandemi.

Namun jika China dikecualikan, angkanya menjadi hanya 40 persen, kata seorang analis George Dix.

"Kami saat ini memperkirakan permintaan jet Asia tidak akan mencapai tingkat pra-pandemi hingga 2023-2024, meskipun perjalanan domestik sebagian besar akan pulih pada akhir 2022," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asia iata maskapai penerbangan

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top