Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Pabrik China Cetak Rekor Tertinggi sejak 2008, Dipicu Booming Komoditas

Biro Statistik Nasional mengatakan indeks harga produsen naik 9 persen dari tahun sebelumnya, menyusul kenaikan 6,8 persen pada April. Harga konsumen meningkat 1,3 persen dari tahun lalu, meleset dari perkiraan 1,6 persen.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 09 Juni 2021  |  12:12 WIB
Pekerja mengenakan masker di pabrik milik Yanfeng Adient Seating Co. di Shanghai, China, Senin (24/2/2020). - Bloomberg/Qilai Shen
Pekerja mengenakan masker di pabrik milik Yanfeng Adient Seating Co. di Shanghai, China, Senin (24/2/2020). - Bloomberg/Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Lonjakan biaya komoditas mendorong inflasi harga produsen di China pada Mei mencapai level tertinggi sejak 2008, yang semakin menambah tekanan harga global.

Biro Statistik Nasional mengatakan indeks harga produsen naik 9 persen dari tahun sebelumnya, menyusul kenaikan 6,8 persen pada April. Harga konsumen meningkat 1,3 persen dari tahun lalu, meleset dari perkiraan 1,6 persen.

Harga komoditas telah reli tahun ini, mendorong pembuat kebijakan China untuk mengambil langkah-langkah yang ditargetkan untuk mengekang kenaikan harga, termasuk pertimbangan memberlakukan kontrol harga pada batu bara, memperluas pasokan bahan baku dan menindak spekulasi dan penimbunan.

Namun, inflasi konsumen tetap relatif tenang, menunjukkan peritel belum menaikkan harga dalam menghadapi permintaan domestik yang lesu.

"Harga produsen yang lebih tinggi tidak dapat diteruskan ke konsumen sepenuhnya dan mungkin hanya mulai mempengaruhi inflasi konsumen pada kuartal keempat tahun ini," kata Iris Pang, kepala ekonom untuk Greater China di ING Bank NV, dilansir Bloomberg, Rabu (9/6/2021).

Wabah Covid-19 terbaru di provinsi selatan Guangdong akan mengurangi permintaan konsumen dalam beberapa bulan mendatang, sementara pemulihan di pasar luar negeri baru saja dimulai, katanya.

Reli harga komoditas telah didorong oleh pemulihan global, kekurangan pasokan yang disebabkan oleh pandemi, dan rekor stimulus oleh pemerintah di seluruh dunia.

Sejauh ini, dampak kenaikan harga logam terutama terlihat pada industri hulu yang terlibat dalam pertambangan dan pengolahan bahan baku, sementara kenaikan harga di industri hilir seperti furnitur dan tekstil minimal, menurut analisis Bloomberg Economics.

"Harga produk industri China terus naik pada Mei, karena harga komoditas, termasuk minyak mentah internasional, bijih besi dan logam non-ferrous naik tajam, dan permintaan domestik pulih dengan stabil," kata Dong Lijuan, Seorang Ekonom di biro statistik.

Dari 9 persen pertumbuhan tahun-ke-tahun, efek dasar berkontribusi 3 poin persentase dan kenaikan harga baru berkontribusi 6 poin persentase, katanya.

Naiknya biaya produsen dan permintaan ekspor yang kuat dapat memberi lebih banyak kelonggaran bagi produsen China untuk menaikkan harga, menambah kekhawatiran inflasi global. Michelle Lam, ekonom China Raya di Societe Generale SA, mengatakan harga ekspor dapat meningkat dalam dolar karena apresiasi yuan, sementara hambatan sisi penawaran di pasar negara berkembang lainnya menguntungkan bagi daya tawar eksportir China.

Inflasi inti naik 0,9 persen, dengan sebagian besar kenaikan harga konsumen berasal dari barang-barang non-makanan. Penurunan harga daging babi hampir 24 persen melemahkan kenaikan harga yang lebih kuat untuk sebagian besar makanan lainnya.

Secara terpisah, pemerintah China berjanji untuk meningkatkan pasokan produk makanan utama untuk menstabilkan harga dan menambah cadangan daging babi nasional.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi china pabrik

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top