Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Direksi dan Komisaris Pertamina Belum Satu Suara Soal Akuisisi Rekind

Kementerian BUMN telah mengeluarkan surat putusan agar Rekind (Rekayasa Industri) untuk bisa disinergikan dengan Pertamina sejak 2018.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 03 Juni 2021  |  18:52 WIB
Direksi dan Komisaris Pertamina Belum Satu Suara Soal Akuisisi Rekind
Kantor Pertamina di Jakarta - Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menyatakan rencana akuisisi PT Rekayasa Industri dari PT Pupuk Indonesia (Persero) oleh PT Pertamina (Persero) masih belum dapat direalisasikan.

Dia membeberkan, rencana itu masih terganjal adanya kendala di internal Pertamina. Dia menyebut rencana itu masih belum sejalan antara dewan komisaris perseroan dengan dewan direksi perseroan.

"Memang masih ada kendala di rapat internal Pertamina antara direksi dan komisaris, tapi mungkin kasih waktu saya mungkin satu bulan ini kami panggil direksi komisaris apakah mereka bisa melaksanakan program yang sudah diberikan pada saat itu," katanya dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Kamis (3/6/2021).

Erick mengungkapkan, sebetulnya dari Kementerian BUMN telah mengeluarkan surat putusan agar Rekind (Rekayasa Industri) untuk bisa disinergikan dengan Pertamina sejak 2018. Namun, hal itu masih belum dapat direalisasikan oleh Pertamina.

Menurut dia, Rekind lebih baik untuk disinergikan dengan Pertamina mengingat akan ada banyak proyek-proyek pembangunan kilang. Sinergi itu dinilai bisa lebih memuluskan rencana pembangunan Pertamina itu.

"Apalagi sekarang ada yang namanya kilang petrochemical dan lain-lain dibandingkan dia sama-sama pupuk," ungkapnya.

Rencana akuisisi Rekind oleh Pertamina telah mencuat sejak zaman Menteri BUMN Dahlan Iskan. Dia sudah sejak lama mengimbau Pertamina agar mengakuisisi Rekind agar pertamina bisa memiliki keahlian di bidang konstruksi dan rekayasa termasuk untuk membangun kilang dan infrastruktur energi lainnya.

Dahlan menuturkan, Indonesia membutuhkan perusahaan besar yang bergerak di bidang engineering, procurement, and construction (EPC) agar dapat bersaing di kancah internasional. Untuk itu, di bawah induk usaha Pertamina, Rekind diharapkan mampu bersaing dengan perusahaan EPC ternama internasional.

Secara korporasi, lanjut Dahlan, pengambilalihan Rekind itu tidak akan membebani Pertamina, sekaligus dapat mewujudkan cita-cita Indonesia untuk memiliki perusahaan EPC kelas dunia dengan mengutus Rekind dalam tender-tender yang diikuti Pertamina.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekayasa industri sinergi bumn
Editor : Zufrizal
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top