Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

AS Usulkan Tarif Pajak Minimum Global 15 Persen, Turun dari 21 Persen

Departemen Keuangan menggarisbawahi bahwa 15 persen adalah batas bawah dan bahwa diskusi harus terus ambisius dan mendorong tingkat itu lebih tinggi.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 21 Mei 2021  |  13:37 WIB
AS Usulkan Tarif Pajak Minimum Global 15 Persen, Turun dari 21 Persen
Menteri Keuangan perempuan pertama di Amerika Serikat Janet Yellen - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat (AS) menyerukan pajak minimum global setidaknya 15 persen, lebih rendah dari usulan awal sebesar 21 persen, terhadap pendapatan luar negeri perusahaan dari Negeri Paman Sam tersebut.

Proposal baru ini menggarisbawahi kesulitan pembicaraan internasional yang dipimpin oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Negara-negara termasuk Irlandia telah menggunakan pajak bisnis rendah sebagai strategi pembangunan ekonomi utama. Adapun, para negosiator mengincar kesepakatan dapat diperoleh musim panas ini.

Menteri Keuangan Janet Yellen telah memperdebatkan upaya ambisius untuk mengakhiri persaingan pajak global perusahaan. Persaingan semacam itu telah mengikis pendapatan pemerintah yang telah mencapai rekor tingkat utang di tengah krisis Covid-19. Pendekatannya menandai perubahan haluan dari pemerintahan Trump, dan telah menggerakkan pembicaraan di antara sekitar 140 negara tentang masalah ini.

"Sangat penting untuk bekerja secara multilateral untuk mengakhiri tekanan persaingan pajak perusahaan dan erosi basis pajak perusahaan," kata Departemen Keuangan dalam sebuah pernyataan, Kamis (20/5/2021).

"Departemen Keuangan menggarisbawahi bahwa 15 persen adalah batas bawah dan bahwa diskusi harus terus ambisius dan mendorong tingkat itu lebih tinggi."

Tawaran tersebut, yang datang dalam pembicaraan yang diadakan minggu ini, membawa AS mendekati tingkat 12,5 persen yang telah dibahas di OECD sebelum AS kembali terlibat dalam negosiasi setelah pemilihan Joe Biden sebagai presiden.

Menteri Keuangan Jepang Taro Aso, berbicara kepada wartawan di Tokyo, mengatakan proposal AS mewakili kemajuan, meskipun diperlukan lebih banyak diskusi. Dia mengharapkan pergerakan menuju perjanjian pajak global, termasuk pajak digital, pada pertemuan musim panas G20, tetapi kesepakatan akhir mungkin tidak akan terjadi hingga akhir tahun ini.

Beberapa negara dengan pajak lebih rendah - seperti Irlandia, dengan tarif korporat 12,5 persen - bersikap skeptis terhadap tarif 21 persen yang diminta oleh pemerintahan Biden kepada Kongres untuk memberlakukan pendapatan global yang diperoleh perusahaan AS.

Pejabat Inggris juga khawatir bahwa tingkat 21 persen terlalu tinggi untuk jangka panjang - meskipun Inggris bermaksud menaikkan pajak perusahaannya menjadi 25 persen pada tahun 2023 untuk mengisi kembali keuangan publik setelah pandemi.

Pemerintahan Biden juga berharap untuk mengamankan kesepakatan OECD yang luas dengan tarif minimum global sebelum Demokrat mengambil dorongan di Kongres untuk menaikkan pajak perusahaan AS.

Gedung Putih telah mengusulkan tarif pajak perusahaan domestik sebesar 28 persen, naik dari 21 persen. Kenaikan pajak ini dilakukan untuk membantu membayar proposal Biden sebesar US$4 triliun dalam program ekonomi jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pajak amerika serikat oecd

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top