Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Maaf Ibu-ibu, Ukuran Tahu-Tempe Bakal Ciut

Perajin tahu dan tempe sepakat mengurangi ukuran tahu dan tempe untuk menyiasati harga kedelai impor yang semakin mahal.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 21 Mei 2021  |  14:12 WIB
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (15/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (15/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Harga kedelai impor yang makin mahal membuat sebagian perajin memilih untuk mengurangi ukuran tahu dan tempe yang diproduksi dinbandingkan dengan menaikkan harga.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran menyebutkan dampak kenaikan harga bahan baku tahu tempe mulai berdampak pada produk yang dijual pedagang di pasar. Harga eceran yang sulit dinaikkan membuat perajin memilih memasok tahu dan tempe dalam ukuran yang lebih kecil.

“Untuk sementara tahu dan tempe ukuran dikecilkan karena harga eceran susah dinaikkan. Saat situasi ekonomi lesu, kalau harga naik bisa membuat ribut sehingga cara menyiasatinya dengan ukuran dulu,” kata Ngadiran, Jumat (21/5/2021).

Ngadiran mengatakan penyesuaian ukuran hampir umum dilakukan para perajin. Penyesuaian ukuran ini pun membuat harga di pasaran cenderung stabil di kisaran Rp10.000 untuk tempe ukuran besar dan tahu yang berkisar antara Rp1.000 sampai Rp1.500 per potong.

Menurutnya, solusi jangka panjang untuk harga kedelai tak lain dan tak bukan hanyalah meningkatkan produksi di dalam negeri.

“Budidaya kedelai harus diwujudkan agar tidak melulu tergantung impor. Jika tidak harga bisa dengan mudah dimainkan,” kata dia.

Kementerian Perdagangan sebelumnya memperkirakan harga jual tahu dan tempe bakal mengalami penyesuaian dalam beberapa waktu ke depan. Tren kenaikan harga kedelai global cenderung berlanjut seiring dengan kuatnya permintaan China dan produksi yang masih terbatas dari negara eksportir.

Data Chicago Board of Trade (CBOT) menunjukkan harga kedelai dunia masih mengalami kenaikan. Pada pertengahan Mei 2021, harga kedelai dunia berada di kisaran US$15,86 per bushels (Rp10.084/kg harga akhir), naik sekitar 11,2 persen dibandingkan dengan April 2021 yang tercatat sebesar US$14,26 per bushels (Rp9.203/kg harga akhir).

“Akan terjadi penyesuaian harga kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe dikarenakan komoditas kedelai asal Amerika Serikat belum memasuki masa panen. Selain itu, ditengarai permintaan kedelai dari negara lain seperti China sebesar 7,5 juta ton pada April 2021 yang berdampak pada tingginya harga kedelai dunia sampai dengan saat ini,” jelas Direktur Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan dalam keterangan resmi.

Melihat harga kedelai dunia yang terus mengalami kenaikan, Oke memaklumi harga kedelai di tingkat perajin tahu dan tempe akan mulai bergerak naik pada kisaran Rp10.500 per kg dan berpotensi mengerek harga tahu dan tempe di tingkat perajin.

Adapun selama Ramadan dan Lebaran, harga kedelai cenderung lebih rendah dan tak melebihi Rp10.000 per kg. Dengan kondisi ini, harga tahu kala itu terjaga di kisaran Rp650 per potong dan tempe Rp16.000 per kg di tingkat perajin.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan kedelai tahu tempe
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top