Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

NTP Petani April 2021 Turun 0,35 Persen

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh pelemahan di subsektor pangan dan holtikultura. 
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 03 Mei 2021  |  12:14 WIB
Petani memanen padi di areal sawah desa Pabean udik, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (20/3/2021). - Antara\r\n
Petani memanen padi di areal sawah desa Pabean udik, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (20/3/2021). - Antara\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai Tukar Petani (NTP) pada April 2021 mengalami penurunan sebesar 0,35 persen secara bulanan. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh pelemahan di subsektor pangan dan holtikultura. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Setianto mengatakan subsektor tanaman pangan mengalami penurunan sebesar 1,18 persen, sedangkan holtikultura mengalami penurunan sebesar 2,62 persen.

"Untuk tanaman pangan yang mengalami penurunan 1,18 persen terjadi karena nilai yang diterima petani turun 0,89 persen, sedangkan untuk indeks yang dibayarkan petani naik 0,29 persen," ujar Setiyanto dalam konferensi persn secara virtual, Senin (3/5/2021).

Adapun, komoditas yang dominan memengaruhi penurunan adalah gabah. Sementara komoditas yang menghambat penurunan indeks yang diterima petani adalah jagung, ketela pohon, kacang tanah, ketela rambat, kacang hijau, dan kacang kedelai.

Untuk holtikultura, terjadi penurunan indeks yang diterima petani sebesar 2,37 persen. Sementara indeks yang dibayarkan petani naik 0,25 persen.

Komoditas yang dominan memengaruhi indeks yang diterima petani tanaman holtikultura adalah bawang merah, cabe rawit, cabe merah, dan sebagainya.

Di sisi lain, komoditas yang menghambat penurunan yang diterima petani adalah kentang, petai, salak, pisang, jeruk, ketimun, semangka, mangga, apel, dan pepaya.

Kendati demikian, untuk tanaman perkebunan rakyat, peternakan, serta perikanan terjadi peningkatan NTP pada April 2021. Masing-masing mengalami peningkatan sebesar 0,89 persen untuk tanaman perkebunan rakyat, 1,3 persen untuk peternakan, dan 0,99 persen untuk perikanan.

Untuk tanaman perkebunan rakyat, terjadi kenaikan indeks yang diterima petani sebesar 1,10 persen. Kanaikan lebih besar dari kenaikan yang dibayarkan oleh petani tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,22 persen.

Komoditas yang memengaruhi indeks yang diterima petani tanaman perkebunan rakyat adalah karet, cengkeh, lada, kelapa sawit, kelapa, biji pala, pinang, kakao, tebu, biji jambu dan mete. Sementara itu, komoditas yang menghambat kenaikan indeks yang diterima petani adalah gambir.

Untuk peternakan, NTP peternak meningkat 1,31 persen. Kenaikan indeks yang diterima peternak naik 1,45 persen. Lebih besar dari kenaikan indeks yang dibayarkan peternak sebesar 0,14 persen.

Komoditas yang dominan memengaruhi kenaikan indeks yang diterima peternak adalah kenaikan ayam ras daging, telur ayam ras, sapi potong, ayam kampung, sapi perah, kemudian daging babi, kerbau, itik, kambing, dan ayam ras petelor.

Komoditas yang menghambat kenaikan indeks yang diterima peternak adalah kelinci.

Untuk perikanan, NTP nelayan naik 0,99 persen. Ada kenaikan indeks yang diterima sebesar 1,18 persen. Kenaikan indeks yang diterima oleh nelayan ini lebih besar dari kenaikan indeks yang dibayarkan sebesar 0,19 persen.

Komoditas yang dominan memengaruhi indeks yang diterima nelayan adalah nila tawar, tongkol, dan sebagainya. Kemudian komoditas yang mengangkat kenaikan indeks yang diterima nelayan adalah teri, cumi-cumi, sayur, dan rumput laut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BPS nilai tukar petani
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top