Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Belanja Iklan 2020 Moncer, Nielsen: Ini Proyeksi untuk 2021

Nielsen memproyeksikan belanja iklan pada tahun ini tidak lebih buruk dari 2020 yang justru mengalami kenaikan dibandingkan dengan 2019.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 22 April 2021  |  18:28 WIB
Executive Director, Head of Media Business Nielsen Indonesia Hellen Katherina menjelaskan hasil riset tentang belanja iklan media, di Jakarta, Rabu (13/9). - JIBI/Abdullah Azzam
Executive Director, Head of Media Business Nielsen Indonesia Hellen Katherina menjelaskan hasil riset tentang belanja iklan media, di Jakarta, Rabu (13/9). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Perkiraan bahwa para pengiklan di Tanah Air akan berfokus kepada efisiensi dan pemotongan bujet beriklan sepanjang 2021 akibat terdampak pandemi Covid-19 dinilai hanya merupakan mitos belaka. Prospek belanja iklan tahun ini pun diprediksi tidak akan lebih buruk dari 2020.

Berdasarkan pengalaman tahun lalu, Nielsen mencatat nilai belanja iklan 2020 justru ditutup naik hingga Rp229 triliun di semua media tipe media yang dimonitor, yakni TV, Cetak, Radio dan Digital. Naik dibandingkan dengan 2019 dengan total belanja iklan di Tanah Air hanya Rp182 triliun.

Direktur Eksekutif Nielsen Ad Media Hellen Katherina mengatakan belanja iklan sudah menunjukkan pola pemulihan pada semester II/2020. Data Nielsen mengungkapkan 5 kategori pengiklan terbesar masih menaikkan angka belanja iklannya pada kuartal IV/2020.

"Kategori memilih untuk menaikkan belanja iklan adalah produk online service seperti e-commerce, pemerintah dan partai politik, produk perawatan wajah, rokok, dan produk perawatan rambut," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (22/4/2021).

Kendati demikian, dia tidak menampik sejumlah kategori yang menurunkan bujet untuk belanja iklan tahun lalu. Kategori tersebut antara lain, makanan ringan/biskuit, kopi dan teh, pasta dan sikat gigi, iklan korporasi, dan sabun.

Adapun, televisi masih menjadi ruang beriklan paling dominan, yakni di atas 70 persen. Tahun lalu, walaupun secara persentase berkurang, tapi secara keseluruhan belanja iklan di media televisi tumbuh 20 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Tahun lalu, televisi bisa dikatakan cukup survive meskipun mengalami penurunan dari segi penetrasi dalam 5 tahun terakhir dari 96 persen menjadi 86 persen," jelasnya.

Sebaliknya, pertumbuhan cukup signifikan tercatat untuk ruang digital. Kendati tidak menerangkan secara spesifik berapa nilai belanja iklan di ruang digital pada 2020, Nielsen menyebut terjadi kenaikan sebanyak 4 kali lipat dibandingkan dengan 2019.

Naiknya porsi belanja iklan digital di antaranya adalah disebabkan oleh banyaknya pengiklan yang mengalihkan atau menambah bujet iklan ke ruang digital selama pandemi Covid-19.

"Tampaknya pengiklan tak bisa seterusnya menahan bujet. Jadi, tentu masih tetap ada brand-brand yang memilih untuk beriklan dan berkomunikasi dengan konsumen," lanjutnya.

Untuk radio, belanja iklan masih cukup stabil dan berpotensi dapat mempertahankan pangsanya tahun ini. Sebab, penetrasi pendengar radio diramal bakal membaik seiring dengan masih banyaknya masyarakat yang berkegiatan di dalam rumah.

Sementara media cetak, Hellen menyebut dari tahun ke tahun penetrasinya terus turun sejak 6-7 tahun yang lalu. Tak hanya penurunan dari segi pembaca, media cetak juga mendapatkan tantangan dari kenaikan harga bahan produksi.

Kendati demikian, belanja iklan di media cetak masih memiliki harapan. Tahun lalu, jumlah pembaca media cetak masih mencatatkan pertumbuhan dari 2,1 juta pada 2019 menjadi 2,6 juta.

Dengan demikian, lanjutnya, spending belanja iklan di Tanah Air tahun ini dinilai masih cukup menjanjikan. Tidak terlihat penurunan drastis, terutama di media utama seperti televisi.

Namun, melihat pergeseran yang terjadi dari berbagai lanskap media, pemangku kepentingan di industri periklanan disebut tidak bisa lagi mengkotak-kotakkan strategi berkomunikasi atau beriklan antara media konvensional maupun digital.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iklan
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top