Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonom: Inflasi Belum Tinggi, BI Perlu Tahan Suku Bunga Acuan

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) Teuku Riefky mengatakan bahwa berlanjutnya tren pemulihan domestik semakin memperbesar momentum potensi pemulihan ekonomi.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 19 April 2021  |  16:35 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memaparkan materi saat acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (3/12 - 2020). Bisnis
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memaparkan materi saat acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (3/12 - 2020). Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Tanda-tanda pemulihan ekonomi terjadi meskipun tidak membuat inflasi lebih tinggi menjadi bukti konsumsi masyarakat masih rendah. Oleh karena itu, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan kebijakan suku bunga rendah.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) Teuku Riefky mengatakan bahwa berlanjutnya tren pemulihan domestik semakin memperbesar momentum potensi pemulihan ekonomi.

“Pencapaian tersebut didorong oleh percepatan program vaksinasi dan stimulus pemerintah, seperti potongan pajak atas barang mewah,” katanya melalui publikasinya yang diterima Bisnis.com, Senin (19/4/2021).

Riefky menjelaskan bahwa meski begitu, inflasi tetap rendah pada periode awal Ramadan. Biasanya, indeks harga konsumen selalu tinggi pada momen tersebut.

Dari sisi eksternal, ketidakpastian sebagian besar berasal dari perkembangan Amerika Serikat (AS). Perkembangan vaksinasi, pasar tenaga kerja yang membaik, dan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan menunjukkan kabar baik tentang perekonomian sehingga mendorong investor untuk menempatkan aset mereka ke instrumen safe haven.

Kondisi ini, terang Riefky memberikan tekanan pada rupiah yang terdepresiasi menjadi Rp14.572 terhadap dolar AS pada akhir Maret.

Di sisi lain, imbal hasil surat utang AS tenor 10 tahun atau US 10 year trasury yield secara bertahap turun dan arus modal mulai berpindah ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Meskipun inflasi masih rendah, BI perlu mempertahankan suku bunga acuannya di 3,50 persen bulan ini untuk menjaga stabilitas nilai rupiah dan mendukung momentum pemulihan ekonomi,” jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia Inflasi Pertumbuhan Ekonomi suku bunga acuan
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top