Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Permintaan Pusat Data Melonjak, Properti Asia Pasifik Terangkat

Bisnis properti untuk pusat data terangkat, karena permintaan pusat data di Asia Pasifik diprediksi naik hampir dua kali lipat dalam 3 hingga 5 tahun ke depan.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 18 April 2021  |  17:51 WIB
Ilustrasi data center - Flickr
Ilustrasi data center - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA – Permintaan pusat data di Asia Pasifik diprediksi naik hampir dua kali lipat dalam 3 hingga 5 tahun ke depan, dengan 2.838 MW sedang dibangun atau dalam pengembangan bertahap.

Di 10 pasar yang dilacak dalam Ringkasan Pasar Pusat Data Asia Pasifik yang dirilis oleh Knight Frank, konsultan properti global, dan DC Byte, layanan informasi online untuk sektor pusat data, terungkap bahwa total kapasitas langsung mencapai 3.042 MW, dengan tambahan 713 MW pasokan ditambahkan pada 2020.

Laporan tersebut menampilkan kota-kota mapan seperti Singapura, Hong Kong, Mumbai, Sydney, Seoul, dan Tokyo serta tujuan pusat data yang berkembang pesat termasuk Hanoi, Bangkok, Shanghai, dan Kuala Lumpur untuk memberikan gambaran terbaik tentang kawasan ini.

Pertumbuhan terlihat di semua pasar, dengan Tokyo dan Shanghai mencapai status "Pasar Gigawatt", sebanding dengan pasar Eropa terkemuka di Frankfurt, London, Amsterdam, dan Dublin. Pasar lain yang perlu diperhatikan adalah Mumbai, yang telah mengambil alih beberapa pasar Eropa, termasuk Paris, dalam hal kapasitas pasar.

Christine Li, Kepala Riset di Knight Frank Asia Pasifik, mengatakan permintaan data di Asia Pasifik akan tumbuh dengan peluncuran lebih banyak jaringan 5G di seluruh wilayah, populasi digital yang semakin terhubung, serta peningkatan adopsi pengaturan kerja jarak jauh.

Oleh karena sebagian besar pasar di Asia Pasifik terbatas pasokannya, membuat lebih banyak pemilik dan pengembang lahan yang membangun kembali properti industri yang sudah tua atau kosong ke pusat data bertingkat yang lebih tinggi untuk mengikuti gelombang pertumbuhan berikutnya.

Adeline Liew, Pimpinan Pusat Data, Knight Frank, Asia-Pasifik, mengatakan permintaan pusat data yang meningkat ini mendongkrak nilai lahan untuk lokasi pusat data di pasar negara berkembang seperti Asia Tenggara dan India di mana pengembang ingin bermitra dengan operator pusat data yang sudah mapan.

Operator ini juga tertarik untuk membeli situs greenfield untuk pengembangan yang dipimpin oleh inisiatif hyperscale. Selain itu, perusahaan teknologi seperti Tencent Cloud juga telah berkembang secara agresif di seluruh wilayah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti data center

Sumber : Property Funds World

Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top