Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Impor Maret 2021 Naik, BPS: Antisipasi Industri Jelang Lebaran

BPS memperkirakan kenaikan realisasi impor pada Maret 2021 disebabkan pengaruh antisipasi industri jelang periode Ramadan dan Lebaran.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 15 April 2021  |  18:44 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memberikan paparan dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (6/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memberikan paparan dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (6/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Badan Pusat (Statistik) Suhariyanto menyebutkan kenaikan impor pada Maret 2021 tidak terlepas dari pengaruh persiapan industri dalam negeri menghadapi kenaikan konsumsi saat Ramadan dan Lebaran. Kenaikan impor terjadi di semua golongan barang berdasarkan penggunaan dengan kenaikan bulanan terbesar pada bahan baku/penolong.

“Saya pikir ya [dipengaruhi Ramadan dan Lebaran]. Kenaikan ini sebagian untuk antisipasi konsumsi saat momen tersebut jika melihat kenaikan beberapa jenis barang konsumsi maupun bahan baku,” kata Suhariyanto dalam konferensi pers, Kamis (15/4/2021).

Impor bahan baku/penolong tercatat naik 31,10 persen menjadi US$12,97 miliar. Angka tersebut juga naik dibandingkan dengan nilai impor pada Maret tahun lalu ketika pandemi pertama diumumkan masuk ke Tanah Air pertama kali.

Kenaikan impor juga terjadi pada barang konsumsi yang menyentuh US$1,41 miliar atau naik 15,51 persen m-to-m. Suhariyanto mengatakan kenaikan barang konsumsi terbesar disumbang oleh vaksin untuk manusia yang dipasok China, gula mentah dari India, susu dan bubuk krim dari Selandia Baru, mesin AC dari Thailand, dan jeruk mandarin dari China.

“Kalau kita lihat antusiasme pengusaha dan masyarakat untuk menyambut persiapan Lebaran ini cukup bagus. Permintaan barang menyebabkan industri kita bergerak dan ini akan terlihat saat tilis pertumbuhan ekonomi kuartal I/2021 di mana pergerakan industri makanan dan minuman juga bagus,” lanjutnya.

Dia pun berharap pertumbuhan positif pada kinerja impor kali ini menjadi sinyal bahwa aktivitas manufaktur dan investasi mulai pulih dan berdampak positif ke pertumbuhan ekonomi kuartal I. Kinerja positif ini juga diharapkan berlanjut pada kuartal selanjutnya.

Terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman membenarkan bahwa kenaikan impor bahan baku/penolong merupakan bagian persiapan industri menghadapi Ramadan dan Lebaran. Sebagai contoh, impor serealia naik dari 990.800 ton pada Februari 2021 menjadi 1,18 juta ton pada Maret 2021. kenaikan signifikan juga terlihat dari impor gula dan kembang gula dari 738.200 ton pada Februari menjadi 752.100 ton pada Maret.

Meski demikian, Adhi memberi catatan potensi kenaikan impor bahan baku yang sifatnya sementara. Dia memperkirakan volume impor akan kembali normal setelah Ramadan dan Lebaran berakhir. Menurutnya, pelaku usaha akan melihat perkembangan konsumsi domestik sebelum memutuskan menambah pengadaan bahan baku.

“Setelah Ramadan akan kembali normal. Kami juga masih memantau dampak larangan mudik. Ada kekhawatiran akan berpengaruh dan menyebabkan penurunan permintaan,” kata Adhi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor BPS
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top