Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemendag Bantah Ada Praktik Mencampur Daging Kerbau dan Sapi

Regulasi tidak melarang daging kerbau impor masuk ke pasar konsumsi. Sebagian besar daging kerbau impor pun didistribusi lewat rantai dingin.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 29 Maret 2021  |  19:41 WIB
Daging kerbau beku yang dijual Bulog. - Antara
Daging kerbau beku yang dijual Bulog. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan membantah praktik mencampurkan daging kerbau impor dan sapi segar marak terjadi di pasar karena penjualan daging telah tersegmentasi sesuai kebutuhan masyarakat.

"Terkait oplosan, tidak ada yang oplos. Adanya [konsumen minta] daging rendang, diberi daging itu. Kecuali konsumen minta daging sapi, tetapi diberi itu [daging kerbau]. Namun, kalau minta daging rendang, diberi daging kerbau lumrah. Jadi, engga ada itu,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Syailendra dalam sebuah forum diskusi, Senin (29/3/2021).

Dia pun menjelaskan bahwa regulasi tidak melarang daging kerbau impor masuk ke pasar konsumsi. Sebagian besar daging kerbau impor pun didistribusi lewat rantai dingin.

“Kalau soal akses daging kerbau harus masuk pasar, memang tidak ada yang melarang dijual ke pasar. Jadi, tolong jangan diberi stigma negatif di masyarakat [soal oplosan],” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI) Ahmad Hadi mengemukakan bahwa 60 persen daging kerbau India sejatinya didistribusikan ke industri makanan lewat rantai dingin. Sekitar 40 persen sisanya dipakai untuk penggunaan umum yang didominasi bisnis hotel, restoran, dan katering. Sementara yang masuk ke pasar konsumen melalui pedagang pasar terbilang kecil.

“Daging kerbau itu masuk dalam kondisi 60 persen untuk industri dan 40 persen untuk kebutuhan umum. Jadi, soal oplosan itu bagian dari 40 persen pasar tadi. Padahal, yang terbanyak ke industri dan itu sangat membantu aktivitas industri makanan,” papar Hadi.

Untuk menghindari praktik oplos atau mencampur yang kerap dikhawatirkan pelaku usaha, Hadi menyarankan agar importir yang menerima tugas dapat mendata siapa saja para pembelinya. Dengan demikian, pasar daging kerbau impor dapat ditelusuri. Sejauh ini, aktivitas impor daging sapi atau kerbau dari wilayah yang belumm bebas penyakit kuku dan mulut hanya bisa dilakukan oleh BUMN lewat penugasan dari pemerintah.

“Saat awal kerja sama dengan Bulog, kami membagi freezer kepada pembeli daging kami, jadi rantai pendingin jalan. Sayang program ini tidak berlanjut karena Bulog juga tidak memberikan kami barangnya. Jadi untuk yang menerima penugasan, perlu dikontrol juga dijual ke mana barangnya. Ini masukan. Karena ini yang bikin harga naik,” lanjutnya.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha Kodrat Wibowo menjelaskan bahwa adanya temuan di mana harga daging kerbau di Pulau Jawa hampir mendekati harga sapi segar. Sementara di luar Jawa, harga cenderung tidak terlalu tinggi, tetapi diiringi dengan praktik oplos dengan daging sapi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kppu DAGING KERBAU
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top