Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi Diperkirakan Membaik pada Semester II/2021, Apa Saja Faktornya?

Seiring dengan proses pemulihan ekonomi, inflasi diperkirakan akan naik ke level 2,92 persen, kembali menuju range target inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 3±1 persen.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 19 Maret 2021  |  01:49 WIB
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (9/2/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (9/2/2021). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan perbaikan besar perekonomian Indonesia akan terjadi di semester II/2021.

Andry menjelaskan perekonomian Indonesia akan semakin pulih seiring berjalannya waktu. Pemulihan didorong oleh implementasi omnibus law, bergulirnya proses vaksinasi, dan mulai beroperasinya sovereign wealth fund (SWF) di kuartal I/2021.

Seiring dengan proses pemulihan ekonomi, Andry memperkirakan inflasi akan naik ke level 2,92 persen, kembali menuju range target inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 3±1 persen. Sementara itu, current account deficit (CAD) diperkirakan meluas secara terkelola hingga -1,88 persen dari produk domestik bruto (PDB).

"Naiknya inflasi serta meluasnya CAD, konsekuensinya, bisa membatasi ruang pergerakan untuk memotong suku bunga," jelas Andry, Kamis (18/3/2021).

Hal tersebut telah diprediksi Andry sebelum BI mengumumkan suku bunga acuan hasil rapat dewan gubernur (RDG) yang dipertahankan di 3,50 persen. BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) tersebut sudah di titik terendah.

Upside risk lain datang dari meningkatnya yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun, sebagai antisipasi dari lebih cepatnya pemulihan ekonomi yang berujung pada perkiraan naiknya inflasi di AS. Kini, proses vaksinasi di AS juga tengah bergulir.

Seiring dengan perkiraan naiknya inflasi domestik dan BI7DRRR yang berada titik terendah, margin imbal hasil dalam dan luar negeri rentan untuk menyempit. Hal tersebut dapat menyebabkan capital outflow dan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi.

"Sementara, downside risk bisa muncul apabila progress pemulihan ekonomi di Indonesia lebih lambat dari perkiraan," pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi Pertumbuhan Ekonomi suku bunga acuan
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top