Ekonom Ungkap Syarat Indonesia Keluar dari Jebakan Kelas Menengah

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan Indonesia masih berpeluang untuk keluar dari middle income trap.
Suasana Bundaran HI yang lengang/Antara
Suasana Bundaran HI yang lengang/Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom menilai tantangan Indonesia untuk keluar dari jebakan berpendapatan menengah atau middle income trap akan bertambah akibat pandemi Covid-19.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan Indonesia masih berpeluang untuk keluar dari middle income trap.

Namun untuk dapat menjadi negara maju pada 2045, ekonomi Indonesia harus didorong hingga tumbuh pada level 8 persen dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.

“Peluang untuk keluar dari middle income trap masih terbuka, hanya tantangannya menjadi bertambah, yaitu lebih kepada mendorong pertumbuhan ekonomi di rata-rata di kisaran 7 sampai 8 persen dalam 10 hingga 20 tahun ke depan,” katanya kepada Bisnis, pekan lalu.

Yusuf mengatakan tantangan juga bertambah dengan pengangguran dan jumlah penduduk miskin selama pandemi Covid-19 yang meningkat.

Menurutnya, diperlukan upaya yang ekstra untuk mengatasi tantangan tersebut. Pasalnya, jika terus terjebak di negara berpendapatan menengah, beragam permasalahan sosial dan ekonomi dikhawatirkan tidak akan tertangani secara optimal.

Misalnya, masih dominannya lapangan kerja yang bersifat informal akan mengakibatkan banyak penduduk rentan terjerat ke jurang kemiskinan.

“Dampaknya Indonesia akan kehilangan momentum untuk mensejahterahkan warganya ke level yang lebih tinggi,” jelasnya.

Yusuf berpendapat solusi untuk jangka pendek dan menengah yang harus dilakukan pemerintah adalah mendorong industri manufaktur.

Belajar dari negara lain, seperti Korea Selatan yang berhasil menjadi negara maju, industri manufaktur dijadikan andalan di negara itu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Sementara untuk strategi jangka panjang, pemerintah harus mendorong peningkatan kualitas SDM. “Seperti yang kita tahu, meskipun anggaran pendidikan terus meningkat namun kualitan SDM Indonesia masih menjadi PR. Skor PISA [Programme for International Student Assessment] Indonesia masih kalah dari negara tetangga,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Kementerian PPN/Bappenas memperkirakan status indonesia sebagai negara upper middle income dengan Gross National Income (GNI) per capita sebesar US$ 4.047,6 akan turun menjadi lower middle income pada 2020 dengan GNI per kapita sebesar US$3.806,4 akibat pandemi.

Namun demikian, Kementerian PPN/Bappenas optimistis status Indonesia akan bisa kembali menjadi upper middle income country pada 2022, dengan syarat pertumbuhan ekonomi tahun ini harus mencapai level 5 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper