Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Alasan BBM Premium Harusnya Dihapus Sejak Tahun Lalu

Ekonom menjelaskan alasan bahwa BBM Premium seharusnya sudah dihapus sejak tahun lalu guna menjaga kinerja Pertamina ditengah kondisi tekanan.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 06 Maret 2021  |  13:34 WIB
Sejumlah pengemudi kendaraan mengisi BBM di salah satu SPBU yang dikelola Pertamina MOR II Sumbagsel. istimewa
Sejumlah pengemudi kendaraan mengisi BBM di salah satu SPBU yang dikelola Pertamina MOR II Sumbagsel. istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom Senior Faisal Basri menyebutkan momentum yang tepat untuk penghapusan bahan bakar minyak jenis RON 88 atau Premium seharusnya dilakukan sejak tahun lalu.

Menurutnya, momentum itu seiring dengan turunnya harga minyak dunia yang menyentuh titik terendahnya, sehingga pada saat itu harga BBM jenis RON 92 menjadi tidak terlalu mahal apabila terjadi penurunan harga.

"Realisasi penggunaan bensin dengan minimum RON 92 bisa diwujudkan pada tahun ini dengan tanpa subsidi tanpa kenaikan harga yang tidak perlu, karena harga minyak lagi murah, kalaupun terjadi kenaikan harga minyak, besaran subsidi plus ongkos penugasan diharapkan tidak lebih besar dari subsidi yang berlaku atau yang dialokasikan pada APBN 2021," katanya dalam webinar Penghapusan Premium Pertalite Dewan Energi Mahasiswa UGM 2021, Sabtu (6/3/2021).

Namun, selama masa pandemi dan penurunan harga minyak dunia, harga BBM di dalam negeri cenderung stabil dan tidak terjadi penurunan. Hal itu dinilai guna menjaga kinerja Pertamina ditengah kondisi tekanan.

Pasalnya, Faisal menilai tidak turunkannya harga BBM oleh pemerintah sebagai salah satu angin segar untuk Pertamina agar bisa bernafas lega di tengah biaya kompensasi penyaluran BBM Premium yang lambat dicairkan.

Faisal menambahkan, kinerja sektor hilir melalui penjualan BBM berkontribusi 80 persen terhadap total pendapatan perusahaan migas pelat itu. Sementara dari hasil kegiatan eksploitasi dan ekplorasi migas di sektor hulu berkontribusi 80 persen terhadap laba Pertamina.

"Ini lah untuk mengkompensasi Pertamina yang subsidinya tidak dibayar-bayar pemerintah itu, jadi Pertamina dikasih nafas supaya bisa menghirup udara, karena pertamina market leader, maka retail lain tidak berani untuk menurunkan dan untuk menurunkan ini atas seizin pemerintah juga, jadi repot dunia minyak kita ini," ungkapnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BBM premium
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top