Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setahun Covid-19, Potret Kilau Tambang Emas dan Hangatnya Batu Bara 

Produksi batu bara pada 2020 berhasil melampaui target dengan realisasi sebesar 561 juta ton atau 102 persen dari target.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 02 Maret 2021  |  15:40 WIB
Alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (8/7/2020). ANTARA FOTO - Syifa Yulinnas
Alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (8/7/2020). ANTARA FOTO - Syifa Yulinnas

Bisnis.com, JAKARTA – Satu tahun pandemi Covid-19 justru menjadi berkah untuk kinerja sektor mineral khususnya emas, sedangkan sektor pertambangan justru merasakan kurangnya konsumsi pada masa tersebut.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasali mengatakan industri pertambangan masih berjalan baik dengan adanya penerapan protokol kesehatan yang ketat sepanjang 2020. Produksi batu bara pada 2020 bahkan berhasil melampaui target dengan realisasi sebesar 561 juta ton atau 102 persen dari target.

Namun, pandemi Covid-19 memengaruhi tingkat konsumsi yang disebabkan rendahnya serapan dari PT PLN (Persero).

"Konsumsi batu bara oleh PLN di angka 132 juta ton di 2020 atau 85 persen dari yang direncanakan," katanya kepada Bisnis, Selasa (2/3/2021).

Dia berharap perusahaan-perusahaan tambang dapat terus meningkatkan perhatiannya terhadap pandemi Covid-19 agar operasi penambangan dapat berjalan dengan baik. Beberapa perusahaan menerapkan telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat terutama screening karyawan, baik yang berada di site maupun yang cuti.

Prosedur lockdown wilayah operasi penambangan juga dilaksanakan dengan baik untuk memutus mata rantai penyebaran pandemi itu.

"Apabila didapatkan adanya penyebaran virus ini di area operasi perusahaan, maka otomatis wilayah tersebut di-lockdown dan operasi terhenti beberapa saat," jelasnya.

Sementara itu, untuk sektor mineral, kata Rizal, produksi emas tidak terlalu terpengaruh dan bahkan memanfaatkan momentum harga yang sedang berada di atas US$1.500 per troy ounce. Pada Agustus 2020, harga emas mencapaia puncaknya pada kisaran US$2.070 per troy ounce.

Namun, harga emas telah bergerak turun dan berada di bawah US$1.800 per troy ounce, tapi harga itu dinilai masih cukup baik untuk perusahaan tambang emas.

"Momentum ini harus dimanfaatkan dengan melakukan mitigasi yang baik untuk pencegahan Covid-19 dan menerapkan protokol kesehatan dengan baik," jelasnya.

Rizal menambahkan dengan adanya program vaksinasi yang merata dilakukan di seluruh dunia, diharapkan dapat memulihkan ekonomi global.

Dengan demikian, bangkitnya perekonomian dunia akan diikuti konsumsi  barang produk tambang seperti peningkatan permintaan batubara dan mineral lainnya.

"Beberapa negara sudah mulai melonggarkan lockdown dan bakan ada yang sudah mencabutnya sehingga ekonomi bisa bergerak kembali," ungkpnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertambangan batu bara Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top