Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bisnis Properti Bakal Pulih 2021, Ini Alasan AREBI

Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) optimistis bisnis properti pulih lagi tahun ini, dengan dasar sejumlah pertimbangan.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 24 Februari 2021  |  18:49 WIB
Pembangunan apartemen di Jakarta./Bloomberg - Dimas Ardian
Pembangunan apartemen di Jakarta./Bloomberg - Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) optimistis dengan pemulihan sektor properti tahun ini seiring dengan adanya sejumlah indikator yang mendukung.

Ketua Umum DPP AREBI Lukas Bong optimistis sektor properti tahun ini seharusnya bisa lebih baik. Menurutnya, ada beberapa indikator di 2021 yang membuat optimisme sektor properti.

"Tahun lalu membuat industri bukan hanya properti kesulitan, tetapi juga industri lainnya. Ekonomi Indonesia juga terpuruk," ujarnya pada Rabu (24/2/2021) dalam webinar prospek bisnis properti 2021 yang digelar Rumah123.com, bagian dari 99 Group yang berbasis di Singapura.

Sejumlah indikator yang dapat membangkitkan sektor properti yakni program vaksinasi nasional, suku bunga Bank Indonesia yang cenderung menurun, dan DP 0 persen.

"Vaksinasi nasional bisa efektif agar kita makin dinamis, tak hanya bekerja berkegiatan di rumah saja. Mata uang rupiah cukup stabil dari mata uang asing serta situasi politik cukup stabil. Ini yang membuat optimisme tahun ini," paparnya.

Adanya Omnibus Law UU Cipta Kerja akan menarik minat investor asing untuk berinvestasi akan membuat sektor properti akan membaik.

Lalu adanya program loan to value (LTV) 100 persen atau DP 0 persen ini akan menarik di kelas masyarakat tertentu. Lalu saat ini tengah dinantikan langkah pemerintah untuk dapat meninjau kembali pajak di sektor properti PPh, PPN, dan BPHTB. Hal ini akan semakin mendorong sektor properti. "Ini optimisme kita bersama," ucapnya.

Lukas menuturan tren properti yang diminati tahun ini yakni rumah tapak. Saat ini lokasi, transportasi dan lingkungan menjadi pertimbangan dalam memilih lokasi hunian.

Konsumen lebih memilih rumah tapak yang berada di lokasi TOD (transit oriented development) dan juga berada di infrastruktur yang memadai. Adapun salah satu strategi pengembang dengan membangun rumah yang berada dekat stasiun. "Ini sangat diminati rumah dekat stasiun, karena di Jakarta lahan terbatas."

Rumah tapak premium dengan harga Rp25 miliar ini juga diminati meskipun bukan di Jakarta. Hal itu terbukti dari para developer yang menjual properti dengan harga seperti di wilayah Pondok Indah ini habis terjual di pinggiran Jakarta.

"Jadi, properti mahal bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di pinggiran Jakarta juga rumah mewah bisa terjual, asalkan ter-develop dengan baik," kata Lukas.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti arebi
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top