Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penjualan Lahan Industri Tumbuh 68,4 Persen, Terutama Koridor Timur

Tingkat serapan saat ini sepanjang 2020 tercatat 185,9 hektare dengan Bekasi memiliki performa cukup tinggi dalam serapan lahan. Koridor timur Jakarta menjadi destinasi industri prospektif, karena didukung infrastruktur.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 19 Februari 2021  |  01:59 WIB
Kawasan industri Jababeka di Cikarang, Jawa Barat./Bisnis - Himawan L. Nugraha
Kawasan industri Jababeka di Cikarang, Jawa Barat./Bisnis - Himawan L. Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan lahan industri di Jakarta dan sekitarnya sepanjang 2020 tumbuh 68,4 persen dengan total serapan mencapai 185,9 hektare. Menurut konsultan properti Knight Frank, itu menunjukkan sinyal positif tetap bergeraknya sektor tersebut di tengah pandemi Covid-19.

"Tingkat serapan saat ini sepanjang 2020 tercatat 185,9 hektare dengan Bekasi memiliki performa cukup tinggi dalam serapan lahan," kata Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat dalam paparan Jakarta Property Highlights 2020 pada Kamis (18/2/2021).

Dia menjelaskan pasokan ketersediaan lahan saat ini mencapai 13.076 hektare dengan adanya tambahan pasokan di koridor timur.

Serapan lahan terbesar pada 2020 terdapat di Bekasi dengan sekitar 68 persen untuk kegiatan sektor otomotif, data center, pergudangan, fast-moving consumer goods (FMCG), manufaktur, dan perdagangan. Serapan lahan juga berasal dari sektor logistik, alat kesehatan, elektronik, tekstil, dan e-commerce.

Harga lahan relatif meningkat 6 persen dari periode tahun sebelumnya, dengan service charge yang stagnan. Meski demikian, dengan tren positif itu, ada kecenderungan kenaikan harga lahan pada 2021.

"Sebagai wilayah dengan kantong penyerapan terbesar, koridor timur miliki kisaran harga jual lahan Rp2,4 juta hingga Rp2,8 juta [per m2]. Negosiasi akan diberlakukan untuk pangsa lahan yang lebih luas atau lebih dari 3 hektare," paparnya.

Menurut Syarifah, koridor timur Jakarta menjadi destinasi industri prospektif, karena didukung infrastruktur yang sudah ada ataupun yang akan dibangun, mulai dari jalan tol hingga kereta cepat.

"Pembangunan industri di Jawa Barat bagian timur juga menjadikan wilayah ini kuat dan mendominasi, dan memang juga karena telah ada aglomerasi yang sudah cukup kuat di koridor timur," ucapnya.

Manager Industrial Knight Frank Indonesia Ipung Rachmaningtyas menambahkan setiap koridor industri di Jakarta dan sekitarnya memang memiliki kelebihan masing-masing.

"Namun, area yang memiliki infrastruktur yang sudah tertata rapi dengan akses menuju tol yang mumpuni itu yang paling menikmati keunggulan-keunggulan tersebut [serapan tinggi]," tuturnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti kawasan industri
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top