Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2021, BI Dianggap Optimistis

Perubahan ini masih dianggap cukup optimistis mengingat beratnya proses pemulihan tahun ini. Setidaknya untuk meningkatkan pertumbuhan di atas 4,3 persen dibutuhkan upaya ekstra.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 18 Februari 2021  |  17:22 WIB
Karyawan keluar dari gedung Bank Indonesia di Jakarta. - JIBI/Dedi Gunawan
Karyawan keluar dari gedung Bank Indonesia di Jakarta. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dari antara 4,8 persen sampai 5,8 persen jadi 4,3 persen sampai 5,3 persen. Perubahan ini masih dianggap cukup optimistis mengingat beratnya proses pemulihan tahun ini.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan bahwa setidaknya untuk meningkatkan pertumbuhan di atas 4,3 persen dibutuhkan upaya ekstra.

“Seperti penanganan pandemi secara lebih maksimal termasuk memastikan distribusi vaksin tepat waktu, dan mendorong bauran kebijakan fiskal moneter melalui percepatan pemulihan daya beli masyarakat,” katanya saat dihubungi, Kamis (17/2/2021)

Bhima menjelaskan bahwa pola anggaran juga harus mengikuti lebih banyak pada pengadaan barang dan jasa di awal tahun. Polanya jangan seperti sebelum adanya Covid-19.

“Yaitu anggaran terserap maksimal di akhir tahun. Diproyeksikan pertumbuhan ekonomi skenario terbaiknya 2 persen pada tahun 2021,” jelasnya.

Sementara itu pemulihan ekonomi diyakini pemerintah sangat bergantung pada penanganan Covid-19. Akan tetapi kebijakan pemerintah tak satu jalan.

Contohnya, terang Bhima ide pemangkasan cuti bersama lebaran 2021 kontradiktif dengan diskon pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk mendorong masyarakat beli mobil baru.

Harga mobil dibuat murah tapi pergerakan masyarakat dibatasi. Padahal, penjualan kendaraan roda empat biasanya naik jelang lebaran.

Tradisi masyarakat kelas menengah umumnya ingin silaturahmi di kampung halaman dengan mobil baru. Kepemilikan transportasi darat tersebut dianggap sebagai kesuksesan seseorang.

“Harusnya pemerintah fokus dulu pada pengendalian dan menahan diri untuk mengeluarkan insentif kepada masyarakat agar bepergian. Dikhawatirkan tanpa konsistensi kebijakan, hasilnya akan merugikan pemulihan ekonomi,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia pertumbuhan ekonomi indonesia
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top