Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bangun Smelter, Freeport Hanya Kucurkan 7,5 Persen dari Investasi

Pembangunan proyek smelter tembaga yang akan dibangun di Weda Bay, Maluku Utara itu diperkirakan membutuhkan investasi US$2,5 miliar.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 05 Februari 2021  |  15:32 WIB
Ilustrasi: Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter. - ANTARA/Basri Marzuki
Ilustrasi: Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter. - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA — PT Freeport Indonesia hanya akan mengeluarkan investasi sebesar 7,5 persen dari total biaya dalam pembangunan proyek smelter tembaga dengan Tsingshan Steel.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto mengatakan bahwa kerja sama tersebut akan menjadi menarik untuk Freeport Indonesia. Pasalnya, pembangunan smelter itu sebagian besar investasinya akan ditanggung oleh Tsingshan.

“Ini menarik karena freeport menyatakan tidak profitable capex-nya mahal. Nah, ini Tshinshan berani memberikan pendanaan capex yang maksimal,” katanya dalam konferensi pers, Jumat (5/2/2021).

Pembangunan proyek smelter tembaga yang akan dibangun di Weda Bay, Maluku Utara itu diperkirakan membutuhkan investasi US$2,5 miliar.

Menurutnya, proyek itu akan lebih menarik jika dibandingkan dengan pembangunan smelter di kawasan industri JIIPE, Gresik.

Dalam proyek itu, kata Septian, investasi ditanggung seluruhnya oleh Freeport. Dengan demikian, proyek smelter Weda Bay dinilai akan lebih atraktif.

“Ini sedang jajaki kalau nanti sudah dinego dan win-win solution baik untuk semua kenapa tidak. Kesepakatan di akhir Maret,” ungkapnya.

Freeport tengah membangun smelter tembaga baru sebagai kesepakatan perpanjangan operasi dalam bentuk izin usaha pertambangan khusus (IUPK).  Namun, sejak 2018, perkembangan pembangunan smelter di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik, Jawa Timur tersebut baru mencapai 5,86 persen per hingga 2020.

Tahun lalu, Freeport mengajukan penundaan pengerjaan proyek smelter baru selama 12 bulan sehubungan dengan situasi pandemi Covid-19.  Kemudian belakangan muncul alternatif lain untuk memenuhi komitmen pembangunan smelter.

Alternatif yang diusulkan Freeport, yakni dengan melakukan ekspansi 30 persen (300.000 ton konsentrat per tahun) kapasitas fasilitas smelter tembaga milik PT Smelting di Gresik, yang sahamnya dimiliki Freeport Indonesia sebesar 25 persen.

Ekspansi smelter PT Smelting akan mengurangi komitmen pembangunan smelter baru Freeport dari 2 juta ton konsentrat tembaga per tahun menjadi 1,7 juta ton per tahun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Freeport smelter
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top