Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Overpopulasi Ayam, Rantai Dingin Belum Bisa Jadi Solusi

Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin) menyebut bisnis pemotongan unggas beserta rantai dinginnya menghadapi pemulihan yang lambat.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 02 Februari 2021  |  17:51 WIB
Pekerja memberikan pakan ternak. - JIBI/Nurul Hidayat
Pekerja memberikan pakan ternak. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis pemotongan unggas beserta rantai dinginnya menghadapi pemulihan yang lambat akibat permintaan dari hotel, restoran, katering (horeka) yang turun selama pandemi.

“Pada awal pandemi omzet turun di kisaran 40 sampai 50 persen, sekarang sudah agak naik tetapi belum pulih karena PPKM [pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat],” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin) P. Nono, Selasa (2/2/2021).

Nono menjelaskan konsumen utama ayam yang dipasok rumah pemotongan ayam adalah horeka dan industri pengolahan ayam. Sementara konsumsi rumah tangga untuk ayam dari rantai dingin masih cenderung rendah meski ada sedikit kenaikan selama pandemi.

“Produksi ayam yang lari ke rumah pemotongan dan rantai dingin hanya sekitar 18 persen. Sementara 72 persennya masih ke pemotongan tradisional di pasar becek karena preferensi konsumen masih ke sini,” kata dia.

Preferensi pada ayam rantai dingin yang masih rendah ini mengakibatkan infrastruktur pendukung belum memadai dalam menampung produksi jika kelebihan pasokan terjadi secara nasional. Jika produksi nasional mencapai 3,2 juta ton dalam setahun, kapasitas cold storage diperkirakan hanya di kisaran 130.000 ton.

“Mungkin secara nasional menyimpan 30 persen stok tidak cukup. Masa normal bisa menyimpan 90.000 ton, kalau sekarang mungkin di kisaran 50.000 ton maksimal,” kata Nono.

Meski secara infrastruktur nasional belum memadai untuk menjalankan fungsi penjagaan stok, Nono memberi catatan bahwa kapasitas penyimpanan rantai dingin sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk stabilisasi harga. Satu-satunya kendala dalam hal ini adalah preferensi konsumen yang lebih memilih daging ayam segar alih-alih beku.

“Kebijakan pemerintah yang mewajibkan pembangunan RPHU dan rantai dingin itu bagus. Hanya saja ada potensi masalah harga berpindah dari livebird ke karkas frozen,” lanjutnya.

Dia mengkhawatirkan kampanye penggunaan rantai dingin untuk menjaga pasokan ayam belum diiringi dengan serapan di pasar, padahal biaya produksi ayam beku cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan produksi ayam di pasar becek. Dia mencatat tambahan biaya untuk produksi ayam beku mencapai Rp1.500 per kg yang mencakup biaya pemotongan, proses blasting (pembekuan), dan penyimpanan.

“Harga ayam frozen lebih murah dari ayam segar, padahal biaya produksi lebih besar. Sekarang saja harganya di konsumen hanya Rp28.000 per kilogram ketika harga ayam segar Rp33.000 sampai Rp34.000 per kilogram. Preferensi konsumen tetap kuncinya,” kata dia.

Harga jual ayam siap potong (livebird) anjlok di kisaran Rp15.000 per kilogram (kg) di Pulau Jawa. Pada saat yang sama, harga pokok produksi telah menyentuh Rp19.300 per kg akibat kenaikan harga DOC dan pakan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

unggas peternak ayam
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top