Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Risiko Asset Bubble China Bikin Pasar Saham Hong Kong Menggila

Bank Rakyat China menyedot sekitar US$12 miliar dalam operasi pasar terbuka pada hari Selasa. Kebijakan itu dinilai tidak biasa, terutama pada minggu-minggu sebelum liburan Tahun Baru Imlek. Kebijakan ini memicu kegilaan di pasar saham Hong Kong.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 Januari 2021  |  10:39 WIB
Gubernur People's Bank of China, Yi Gang. - Bloomberg
Gubernur People's Bank of China, Yi Gang. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Kekhawatiran melanda pasar keuangan China setelah bank sentral menarik uang tunai dari sistem perbankan dan seorang pejabat memperingatkan tentang risiko penggelembungan aset.

Bank Rakyat China menyedot sekitar US$12 miliar dalam operasi pasar terbuka pada hari Selasa. Kebijakan itu dinilai tidak biasa, terutama pada minggu-minggu sebelum liburan Tahun Baru Imlek, yang pada 2021 jatuh pada pertengahan Februari karena penduduk biasanya membutuhkan lebih banyak uang untuk membayar perjalanan dan hadiah musiman.

Dikutip dari Bloomberg, kebijakan ini juga bertentangan dengan laporan terbaru di surat kabar China bahwa likuiditas tidak akan diperketat sebelum liburan.

Langkah bank sentral ini memperkuat sinyal bahwa Beijing semakin waspada tentang betapa murah dan berlimpahnya likuiditas sehingga memicu kelebihan di pasar.

Penasihat PBOC Ma Jun mengatakan kepada media lokal bahwa risiko penggelembungan aset - seperti di pasar saham atau properti - akan tetap ada jika China tidak mengalihkan fokusnya ke pertumbuhan pekerjaan dan manajemen inflasi.

Reaksi brutal tampak di pasar saham Hong Kong, di mana dana dalam negeri membantu mendukung reli yang menghancurkan dunia.

Investor daratan membeli saham Hong Kong senilai HK$250 miliar (US$32 miliar) hingga Senin (25/1/2021), hampir 40 persen dari total tahun lalu.

Indeks Hang Seng turun 2,6 persen dari level tertinggi sejak Juni 2018, dipimpin oleh penurunan 7,2 persen di Hong Kong Exchanges & Clearing Ltd. dan penurunan 6,3 persen di Tencent Holdings Ltd.

Di pasar China daratan, indeks acuan biaya pinjaman antar bank melonjak 36 basis poin menjadi 2,78 persen pada hari Selasa, level tertinggi dalam setahun.

Kontrak berjangka pada obligasi pemerintah China yang jatuh tempo dalam satu dekade mendekati level penurunan terbesar sejak September, sementara Indeks CSI 300 saham di Shanghai dan Shenzhen mendekati rekor tertinggi tahun 2007 atau turun 2 persen.

“PBOC ingin membawa investor keluar dari euforia akibat likuiditas yang melimpah di bulan Desember,” kata Xing Zhaopeng, Ekonom di Australia & New Zealand Banking Group. Dia menambahkan PBOC kemungkinan tidak akan melonggarkan dompetnya setidaknya minggu ini, yang akan membuat likuiditas lintas bulanana sangat ketat.

Gubernur PBOC Yi Gang sebelumnya mengatakan bank sentral akan berusaha untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sambil membatasi risiko pada sistem keuangan. Yi mengatakan total rasio utang terhadap output ekonomi China naik menjadi sekitar 280 persen pada akhir tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china bubble pboc

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top