Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Permintaan Komponen Elektronika Menguat, Otomotif Masih Lemah

Pelaku industri komponen menilai awal tahun ini permintaan mulai membaik kendati ada kelangkahan bahan baku di pemasok yang harus mendatangkan material impor namun teradang kelangkaan kontainer.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 18 Januari 2021  |  18:05 WIB
Permintaan Komponen Elektronika Menguat, Otomotif Masih Lemah
Kulkas untuk penyimpan vaksin. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri komponen menilai awal tahun ini permintaan mulai membaik kendati ada kelangkahan bahan baku di pemasok yang harus mendatangkan material impor namun teradang kelangkaan kontainer.

Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) Wan Fauzi mengatakan secara rerata permintaan sudah mulai ada kenaikan dari akhir tahun lalu hingga 80 persen. Namun, komponen elektronik tercatat lebih melunjak ketimbang otomotif yang masih kecil.

"Kalau di saya elektronik ada yang permintaannya sudah dua kali lipat sedangkan otomotif baru untuk sepeda motor yang naik. Jadi kalau dulu 70 persen produksi untuk otomotif sekarang 60 persen untuk elektronik," katanya kepada Bisnis, Senin (18/1/2021).

Fauzi menyebut indikasi perbaikan pada otomotif biasanya jika penjualan mobil sudah kembali pulih. Meski saat ini ada peluang baru dari rencana penerbitan mobil listrik dari sejumlah merek.

Nantinya, menurut Fauzi jika industi otomotif sudah lebih stabil kemungkinan produksi komponen akan menjadi 50:50 untuk elektronika dan otomotif.

Sayangnya, Fauzi mengatakan saat ini kondisi industri komponen banyak yang sedang mengalami kesulitan modal. Alhasil, banyak pabrikan tengah mencari dana segar untuk kelangsungan produksi dari order yang sudah masuk.

Sementara, di perbankan Fauzi dan anggota PIKKO lain mengaku sudah tidak memiliki harapan karena alasan limit yang membuat mereka tidak bisa lagi menerima pinjaman.

"Padahal tidak sedikit yang dapat lebihan order dari pabrik yang sudah terpaksa tutup juga artinya orderan yang sudah pasti tetapi kalau ke bank pasti ditolak karena alasan limit sedangkan pinjam ke lembaga non-bank beda bunganya bisa 4 persen," ujar Fauzi.

Belum lagi, pabrikan saat ini juga harus memutar otak karena harga material yang naik hingga 40 persenan dan langka serta gaji karyawan yang harus tetap dibayarkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Komponen Otomotif elektronika
Editor : Fatkhul Maskur

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top