Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspor Sumsel Masih Bertumpu pada Karet

Komoditas karet tercatat masih menjadi penyumbang terbesar dalam ekspor Sumatra Selatan sepanjang tahun 2020.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 15 Januari 2021  |  14:05 WIB
Petani menyadap karet di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (29/9/2020). ANTARA FOTO - Nova Wahyudi
Petani menyadap karet di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (29/9/2020). ANTARA FOTO - Nova Wahyudi

Bisnis.com, PALEMBANG – Komoditas karet tercatat masih menjadi penyumbang terbesar dalam ekspor Sumatra Selatan sepanjang 2020.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik Sumatra Selatan (BPS Sumsel), karet berkontribusi sebesar 34,82 persen terhadap total ekspor nonmigas Bumi Sriwijaya.

Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengatakan karet yang dikirim ke pasar luar negeri berupa karet remah (crumb rubber).

Share karet masih yang paling tinggi karena memang komoditas ini masih menjadi andalan Sumsel,” katanya, Jumat (15/1/2021).

Adapun nilai ekspor karet sepanjang tahun lalu mencapai US$1,19 miliar. Angka tersebut menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$1,29 miliar.

Endang menjelaskan pasar utama karet Sumsel mayoritas ditujukan kepada negara Amerika Serikat. Negara tersebut pun menempati posisi ketiga dalam pangsa ekspor Sumsel, dengan share sebesar 9,22 persen.

Dia melanjutkan, komoditas andalan lainnya untuk ekspor nonmigas Sumsel berupa bubur kertas (pulp) di mana menempati posisi kedua. Komoditas itu tercatat berkontribusi sebesar 31,58% dengan nilai ekspor mencapai US$1,08 miliar.

Sementara jika dilihat dari pelabuhan, ekspor Sumsel masih berasal dari Pelabuhan Boom Baru dan Bandara SMB II, dengan kontribusi sebesar 79,09 persen.

“Ada pula yang dari pelabuhan di luar Sumsel, asal ekspor dari luar Sumsel ini meningkat malah dibanding tahun sebelumnya,” ujar Endang.

Adapun total ekspor sepanjang tahun 2020 tercatat senilai US$3,60 miliar. Nilai tersebut turun 11% jika dibandingkan ekspor tahun 2019 yang mencapai US$4,05 miliar.

Terpisah, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian,mengatakan kondisi harga karet saat ini masih terkoreksi.

Menurut dia, belum ada faktor yang dapat memicu kenaikan harga karet pada awal 2021. “Di beberapa negara besar pertumbuhan ekonomi global belum memicu meningkatkan permintaan karet global. Selain itu kondisi produksi di negara produsen utama masih belum pulih pasca cuaca ekstrem La Nina dan penyakit gugur daun pohon karet,” jelasnya.

Rudi menilai, harga karet di kisaran Rp18.000--Rp19.000 untuk kadar kering karet (KKK) 100% sudah cukup baik bagi petani. Dengan demikian harga ditingkat lelang UPPB (Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet) bisa mencapai Rp9.000 -- Rp10.000 per kg.

Namun demikian, kata Rudi, yang bisa menikmati harga tersebut masih sangat rendah, kebanyakan petani masih tergantung dengan harga pedagang pengumpul.

Berdasarkan data Disbun Sumsel, harga karet KKK 100% senilai Rp18.337 per kg, pada Jumat (15/01). Angka itu telah turun Rp148 dibanding harga indikasi pada Kamis (14/01)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor karet industri karet
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top