Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kedelai Nuklir BATAN Jadi Solusi Pengganti Kedelai Impor?

BATAN melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) menghasilkan dua varietas kedelai unggul yang diberi nama Super Genjah BATAN (Sugentan) 1 dan Sugentan 2.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 14 Januari 2021  |  18:04 WIB
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Kedelai menjadi bahan baku yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia. Seperti diketahui, kedelai merupakan bahan dasar dari tempe, tahu, dan juga kecap.

Sayangnya, Indonesia masih bergantung dengan impor kedelai dari negara lain yang kemudian sering menyebabkan kelangkaan dan membuat harga kedelai susah untuk dikendalikan.

Indonesia sendiri terus menargetkan produksi kedelai dalam negeri. Seperti dikutip pada situs Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) pada Kamis (14/1/2021), Kementerian Pertanian menaikkan target produksi pada 2020 sebesar 7 persen, yaitu menjadi 383.371 ton.

BATAN melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) menghasilkan dua varietas kedelai unggul yang diberi nama Super Genjah BATAN (Sugentan) 1 dan Sugentan 2 yang merupakan perbaikan dari varietas Argomulyo.

Peneliti BATAN Arwin mengatakan varietas baru ini memiliki karakter lebih baik dibandingkan induknya yang telah dilakukan penyinaran radiasi gamma pada dosis 250 gray.

Dibandingkan dengan induknya, Sugentan mempunyai beberapa keunggulan diantaranya umur tanamnya super genjah yakni sekitar 67-68 hari lebih cepat dibandingkan induknya yang mencapai umur antara 86-87 hari.

"Produktivitasnya juga lebih tinggi yakni 3,01 ton per ha dengan rata-rata 2,5 ton per ha, sedangkan induknya pada kisaran 2,2-2,4 ton/ha," kata Arwin dikutip pada Kamis (14/1/2021).

Selain itu, dia mengklaim Sugentan 1 dan Sugentan 2 sebagai varietas kedelai yang tahan terhadap penyakit karat daun, hama pengisap polong, dan hama ulat kerayak. Kedua varietas tersebut tergolong super genjah, sehingga cocok ditanam di lahan sawah atau tegalan.

Kepala BATAN Anhar Riza Antariksawan berharap varietas Sugentan 1 dan 2 ini bisa bermanfaat secara nasional. Namun, untuk persoalan peningkatan produksi tidak hanya ditentukan oleh jenis varietasnya saja, tetapi dipengaruhi oleh faktor lain. Misalnya teknik budi daya, ketersediaan lahan, dan harga kedelai di tingkat petani.

Meski demikian, BATAN tidak berwenang mengatur ketersediaan lahan dan harga kedelai di tingkat petani.

"Saya berharap ada kebijakan kementerian teknis terkait dan pemerintah daerah yang dapat membantu petani yang bersedia menanam kedelai agar produktivitas kedelai secara nasional benar-benar bisa meningkat," ungkap Anhar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedelai batan impor kedelai
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top