Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tahun Depan, Industri Penerbangan Masih Puasa Turis Asing

Asian Development Bank menyebut antara 6 bulan hingga 1 tahun ke depan, turis mancanegara tidak melakukan perjalanan via jalur udara.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 28 Desember 2020  |  15:23 WIB
Bandara Hang Nadim, Batam.  - batam/airport.com
Bandara Hang Nadim, Batam. - batam/airport.com

Bisnis.com, JAKARTA – Industri penerbangan masih akan mengalami tantangan konektivitas internasional hingga tahun depan dengan kebijakan pengetatan di setiap negara yang masih berlanjut.

Vice President Asian Development Bank Bambang Susantono mengatakan kecenderungan penurunan turis yang terjadi untuk penerbangan internasional pada tahun ini masih akan terjadi pada tahun depan. Langkah pemerintah di sejumlah negara untuk memberikan suntikan dana ke maskapai dinilai relevan termasuk untuk maskapai pelat merah seperti Garuda Indonesia.

“Banyak [turis mancanegara] yang tidak melakukan perjalanan selama enam bulan hingga satu tahun mendatang, sehingga mempengaruhi arus penumpang internasional,” ujarnya, Senin (28/12/2020).

Bambang menyebutkan dengan kondisi tersebut, sejumlah negara akan lebih menggenjot penerbangan domestik ketimbang melakukan travel bubble atau perjanjian koridor perjalanan antar negara di tengah pandemi.

Sementara itu, Ketua I Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Suharto Abdul Majid mengatakan sektor penerbangan bersama dengan pelayaran, pariwisata dan perjalanan, otomotif, konstruksi dan perumahan, manufaktur, jasa keuangan, pendidikan, dan pertambangan adalah sektor atau industri yang termasuk ke dalam kategori potential lossers.

Sejak awal, kata dia, banyak negara telah menutup atau mengerem frekuensi penerbangan internasional guna menekan penyebaran virus corona. Hal ini juga dirasakan di dalam negeri.

Namun, upaya pemulihan industri penerbangan global tentunya bertumpu kepada penerbangan domestik. Pemulihan penerbangan internasional membutuhkan waktu yang lebih lama, dengan salah satu tantangan memasuki masa pemulihan adalah arus kas maskapai dunia.

Dunia penerbangan Indonesia, lanjutnya, memiliki secercah harapan untuk lebih cepat bangkit mengingat jumlah penerbangan domestik yang signifikan ketimbang penerbangan internasional. Data jumlah penumpang angkutan udara pada 2018 dan 2019 juga menunjukkan besarnya pasar domestik dibandingkan dengan pasar internasional.

Sebagai gambaran pada 2018, jumlah penumpang domestik mencapai 101 juta penumpang berbanding dengan penumpang internasional sebesar 17 juta penumpang. Demikian pula pada 2019, jumlah penumpang domestik sebesar 80 juta orang sedangkan penumpang internasional sebesar 18 juta penumpang.

Sementara itu, pada tahun ini, jumlah penumpang kedatangan mencapai total 37 juta penumpang, diantaranya 90 persen berasal dari penerbangan domestik atau sekitar 33 juta penumpang, sisanya 10 persen atau sekitar 3,5 juta penumpang berasal dari penumpang internasional.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

maskapai penerbangan
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top