Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Power Dorong Percepatan Co-firing Biomassa

Optimalisasi energi baru dan terbarukan (EBT) terus digencarkan melalui implementasi co-firing biomassa pada PLTU Jeranjang dan PLTU Suralaya unit 1-4.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 21 Desember 2020  |  17:01 WIB
Ilustrasi. Pekerja melakukan pemeliharaan rutin di Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Grati di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (21/3/2019). - ANTARA/Widodo S Jusuf
Ilustrasi. Pekerja melakukan pemeliharaan rutin di Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Grati di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (21/3/2019). - ANTARA/Widodo S Jusuf

Bisnis.com, JAKARTA - PT Indonesia Power, anak usaha PT PLN (Persero), tengah gencar mendorong implementasi co-firing biomassa pada PLTU untuk meningkatkan porsi bauran energi baru dan terbarukan (EBT).  

Sejauh ini, Indonesia Power telah meluncurkan secara komersial co-firing pada dua pembangkitnya, yakni PLTU Jeranjang dan PLTU Suralaya unit 1-4.  

Selain itu, perseroan juga tengah melakukan uji co-firing di PLTU Palabuhan Ratu dan PLTU Lontar. Berdasarkan roadmap co-firing Indonesia Power, co-firing pada kedua PLTU tersebut ditargetkan beroperasi komersial pada Januari 2022.  

Menurut Direktur Utama Indonesia Power Ahsin Sidqi, sejauh ini uji coba co-firing di sejumlah PLTU berjalan baik dan tidak ditemukan dampak negatif dari sisi teknis.

"Sudah ada komersial empat pembangkit. Di PJB (PT Pembangkitan Jawa Bali) dua, di Indonesia Power dua pembangkit, yakni di Jeranjang dan Suralaya 1-4. Yang uji coba paling tidak sudah ada 19 [pembangkit], itu tidak ditemukan dampaknya.  Di PLTU Paiton yang sudah 1 tahun dilihat di boilernya tidak ditemukan hal-hal yang negatif," ujar Ahsin dalam coffee morning Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Senin (21/12/2020).

Adapun co-firing merupakan proses penambahan biomassa sebagai bahan bakar pengganti parsial ke dalam boiler batu bara tanpa melakukan modifikasi yang signifikan pada PLTU yang telah beroperasi.  

Menurut Ahsin, co-firing ini menjadi solusi meningkatkan porsi bauran EBT dalam bauran energi nasional dengan cara yang relatif cepat, mudah, dan murah karena tanpa harus membangun pembangkit baru.

Dia menuturkan,co-firing dengan campuran biomassa sebesar 5 persen yang saat ini diimplementasikan akan memberikan kontribusi pada peningkatan EBT sebesar 2.319 megawatt (MW).

"Sehingga bauran EBT di 2025, kalau tanpa co-firing tercapai 20,63 persen. Dengan co-firing bisa mencapai 22,83 persen di 2025," katanya.

Terdapat sebanyak 114 unit PLTU milik PLN yang berpotensi dapat dilakukan co-firing biomassa.  Pembangkit tersebut tersebar di 52 lokasi dengan total kapasitas 18.154 MW.  

"Di 52 lokasi kapasitas sekitar 18.000 MW dan memerlukan biomassa sekitar 4 juta ton. Tetapi, kami memasang angka sekitar 2.000 MW saja, ini tergantung kebijakan dan dorongan pemerintah ke depan, tapi itu pun sudah cukup membantu porsi EBT di masa mendatang," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pltu ebt
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top