Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemilik Perkantoran Tetap Gigit Jari Meski Pandemi Covid-19 Mereda

Vaksin Covid-19 mulai hadi di seantero dunia, tetapi sikap baru dalam bekerja yang lebih banyak dari rumah tetap tidak akan memulihkan pemilik perkantoran ke level yang sama sebelum pandemi.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 19 Desember 2020  |  07:03 WIB
Properti komersial di kawasan pusat bisnis Singapura./Bloomberg - Nicky Loh
Properti komersial di kawasan pusat bisnis Singapura./Bloomberg - Nicky Loh

Bisnis.com, JAKARTA – Investor properti akan mengetahui seberapa besar dampak global dari pandemi virus corona telah menyebar dari gedung-gedung yang sepi dan membuat bisnis mereka dalam kesulitan.

Ratusan eksekutif perusahaan dalam 5 bulan terakhir membahas urgensi untuk memotong biaya real estat.

Taktiknya termasuk memangkas penggunaan ruang perkantoran, mempercepat penutupan cabang, menegosiasi ulang harga sewa gudang, bahkan menutup pusat data.

Perusahaan-perusahaan memikirkan kembali kebutuhan real estat mereka, dengan banyak di antaranya berada di jalur penghematan jutaan dolar.

Sementara pandemi telah menekan pemilik properti dan memangkas biaya yang terkait dengan real estat komersial, kerusakan arus kas menjadi risiko jangka panjang bagi investor.

Dengan perkiraan kumpulan properti global senilai US$10 triliun yang dimiliki untuk tujuan investasi, sumber utama modal industri—dana pensiun dan perusahaan asuransi—mengandalkan pendapatan tetap untuk membayar komitmen jangka panjang mereka sendiri.

"Itulah alasan utama untuk membeli real estat. Sebagian besar pemilik properti pada dasarnya didukung oleh dana pensiun dan asuransi dan pada akhirnya siapa yang akan membayarnya," kata Adrian Benedict, kepala solusi real estat di Fidelity International di London.

Investor sudah dirugikan. Indeks saham real estat global merosot lebih dari 10 persen tahun ini. Di sisi utang, tunggakan hipotek komersial AS naik menjadi hampir 6 persen pada November, menurut Mortgage Bankers Association.

Ketika resesi global semakin dalam dan perusahaan bersiap diri untuk normal baru yang menyusul, bisnis akan memerlukan lebih sedikit ruang daripada sebelum pandemi Covid-19.

Sebuah survei pada Oktober yang dilakukan oleh Institute of Directors Inggris menemukan bahwa 74 persen perusahaan berencana untuk lebih banyak bekerja dari rumah setelah pandemi mereda, dengan lebih dari setengahnya berniat untuk mengurangi jumlah ruang perkantoran yang mereka gunakan.

Vaksin virus corona memang telah mengguncang investor di seluruh dunia dan membuat saham real estat melonjak, tetapi untuk perkantoran perayaan mungkin terlalu dini, karena kelak orang tetap akan lebih banyak bekerja dari rumah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti Covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top