Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IPOC 2020 Dibuka, Gapki Sebut Industri Sawit Ikut Terdampak Pandemi

Konsumsi yang terkontraksi telah menyebabkan penurunan ekspor ke sejumlah mitra sehingga mendorong pelaku usaha untuk menyiapkan strategi bisnis yang sesuai.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 02 Desember 2020  |  13:52 WIB
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 telah membawa dampak yang besar pada perekonomian, termasuk industri sawit Tanah Air.

Joko mengatakan pandemi Covid-19 yang memaksa masyarakat beraktivitas dengan adaptasi baru telah memicu perlambatan ekonomi. Hal ini tecermin dari resesi yang dihadapi berbagai negara termasuk Indonesia.

Konsumsi yang terkontraksi telah menyebabkan penurunan ekspor ke sejumlah mitra dan hal ini disebut Joko mendorong pelaku usaha untuk menyiapkan strategi bisnis yang sesuai.

“Termasuk kami di industri kelapa sawit juga mengalami situasi yang sama. Walaupun perkebunan dan pabrik masih beroperasi dengan normal dengan protokol kesehatan yang ketat,” ujar Joko saat menyampaikan pidato pembuka Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2020 yang digelar secara virtual, Rabu (2/12/2020).

Joko menjelaskan tahun ini diawali dengan ketidakpastian bagi industri sawit menyusul kebijakan karantina wilayah yang diberlakukan di banyak negara Asia dan Eropa. Dia mengatakan bahwa kebijakan ini telah memengaruhi permintaan minyak nabati dan mengakibat ekspor selama semester I memperlihatkan performa tidak optimal.

Meski demikian, perbaikan kinerja mulai terlihat sejak kuartal ketiga dan berlanjut pada kuartal empat. Hal ini terlihat dari permintaan dari negara importir yang membaik yang diikuti dengan perbaikan harga. Berdasarkan laporan Bloomberg, harga minyak sawit mentah (CPO) telah terapresiasi 14,9 persen sepanjang 2020.

Joko mengatakan kondisi ini menjadi momen yang tepat untuk menganalisis kondisi pasar sawit pada 2021. Menurutnya, hal ini diperlukan untuk mengetahui apakah kondisi pada 2020 akan membawa perubahan yang baik atau tidak untuk tahun depan.

Kebijakan pemerintah untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan sawit pun disinggung oleh Joko. Dia mengatakan konsistensi kebijakan mandatori B30 telah menyeimbangkan permintaan domestik.

“Konsumsi domestik juga meningkat didukung oleh industri oleochemical yang mendukung pencegahan transmisi virus lewat produksi hand sanitizer, disinfektan dan sabun,” lanjutnya.

Meski harus menghadapi masa sulit, Joko memastikan industri sawit akan tetap berjalan dengan mengedepankan protokol kesehatan.

Dia juga memastikan industri ini akan selalu mendukung kebijakan mandatori biodiesel dan bisa mengelola pasar domestik sampai pulih 100 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Biodiesel industri kelapa sawit Covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top