Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kena Dua Pukulan, Produksi Kantong Plastik Jatuh

Utilisasi pabrikan kantong plastik merupakan yang paling terpukul selama pandemi Covid-19. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyebut dua pukulan yang bikin industri ini terjatuh.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 26 November 2020  |  20:00 WIB
Pekerja mengemas biji plastik usai dijemur di salah satu industri pengolahan limbah plastik di Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja mengemas biji plastik usai dijemur di salah satu industri pengolahan limbah plastik di Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Utilisasi pabrikan kantong plastik merupakan yang paling terpukul selama pandemi Covid-19. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyebut dua pukulan yang bikin industri ini terjatuh.

Kedua pukulan itu berupa aturan larangan penggunaan plastik, dan insentif bagi penggunaan kantong ramah lingkungan.

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono mendata utilisasi industri kantong plastik nasional kini berada di bawah 40 persen. Hal tersebut disebabkan oleh minimnya skrap kantong plastik di tempat pemrosesan akhir (TPA).

"Kantong plastik itu 60 persen [bahan bakunya skrap] kantong plastik. [Penurunan tersebut didorong] dengan adanya pelarangan itu dan substitusi 'ramah lingkungan'," katanya kepada Bisnis, Kamis (26/11/2020).

Seperti diketahui, sejumlah daerah telah memberlakukan kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik konvensional, seperti Banjarmasin dan Balikpapan, serta ke depan Bogor, Bandung dan DKI Jakarta.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendukungan pemerintah daerah yang melarang penggunaan kantong plastik konvensional dengan memberikan insentif. Dana insentif yang diberikan kepada daerah yang menerbitkan aturan pengendalian sampah plastik ini sebanyak Rp9 miliar—Rp11 miliar per daerah.

Di samping itu, Kementerian Keuangan sedang menggodok aturan cukai plastik yang mendukung penggunaan kantong plastik "ramah lingkungan" atau yang memiliki karakteristik cepat terurai dengan tanah. Dukungan tersebut ditunjukkan dengan pemberian cukai yang lebih rendah pada jenis pasti tersebut.

Fajar menyatakan pemulung yang bertugas mengambil dan memilah skrap plastik tidak dapat membedakan kantong plastik konvensional dengan kantong plastik "ramah lingkungan". Menurutnya, pemilahan kedua jenis kantong plastik tersebut penting lantaran kantong plastik "ramah lingkungan" dapat merusak mesin daur ulang kantong plastik.

"Makanya, pemulung malas ambil itu. Dampaknya malah negatif," ucapnya.

Fajar menyatakan dua aturan tersebut berpotensi meningkatkan konsumsi bahan baku virgin dan mengikis volume serapan bahan baku daur ulang. Namun, pabrikan daur ulang tidak bisa terus mengonsumsi bahan baku virgin lantaran harganya yang terlampau mahal.

Berdasar data Inaplas, kantong plastik hanya berkontribusi sekitar 5 persen dari produksi plastik nasional. Sementara itu, industri kantong plastik hanya menyerap 366.000 ton bijih plastik high density polyethylene (HDPE) per tahun atau 6,5 persen dari total produksi plastik nasional.

Walau demikian, Inaplas mendata industri kantong plastik menyerap sekitar 30.000 tenaga kerja. Adapun, angka tersebut merupakan yang terbesar di antara lini produksi industri plastik lainnya.

Walaupun serapan kantong plastik turun drastis di pasar modern, Fajar melihat ada harapan pada penggunaan kantong plastik oleh pemesanan makanan daring. "Mudah-mudahan dengan pelarangan [penggunaan kantong plastik konvensional] di pasar modern, [konsumsi] di pasar pesanan makanan daring masih bagus," ucapnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

plastik Kantong Plastik Berbayar
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top