Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tol Laut Kesulitan Angkut Muatan Perikanan, Ini Alasannya!

Minimnya reefer container dalam tol laut membuat pengiriman ikan via tol laut terbatas.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 11 November 2020  |  19:42 WIB
Penumpang antre untuk menaiki KM Sangiang di Pelabuhan Gorontalo, Kota Gorontalo, Gorontalo, Senin (27/5/2019). - ANTARA/Adiwinata Solihin
Penumpang antre untuk menaiki KM Sangiang di Pelabuhan Gorontalo, Kota Gorontalo, Gorontalo, Senin (27/5/2019). - ANTARA/Adiwinata Solihin

Bisnis.com, JAKARTA – Ketersediaan kontainer berpendingin atau reefer container masih menjadi masalah dalam distribusi perikanan Indonesia. 

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Antoni Arief Priadi mengatakan ketersediaan kontainer berpendingin masih sangat terbatas di dalam kapal tol laut.

Masing-masing kapal terangnya, hanya dapat memuat 3-5 kontainer, karena keterbatasan sumber listrik. Belum lagi, desain awal kapal memang bukan untuk kontainer berpendingin.

"Ketersediaan reefer container ini juga kalau lihat pertumbuhan kargo ikan semakin banyak menjadi kekhawatiran, nantinya harus ada solusi, kapal tol laut itu awalnya tidak didesain sebagai angkutan muatan beku dalam reefer," ujarnya, Rabu (11/11/2020).

Keterbatasan desain awal tersebut diakuinya membuat kapasitas pengangkutan ikan menjadi terbatas karena jumlah kontainer berpendingin yang dapat diangkut terbatas.

"Rata-rata hanya 3-5 reefer plat, ini juga terkait ketersediaan energi listrik di kapal, ini yang kami lihat dari 3-5 unit, kapasitas hanya 60-100 ton, ini semakin meningkat dan kebanyakan dibawa ke Surabaya dan kebanyakan yang diangkut itu diekspor lagi ke luar negeri," paparnya.

Menurutnya, khusus kargo perikanan ini perlu dipikirkan agar pusat ekspor tidak perlu berada di Pulau Jawa. Pusat ekspor bisa dibuat di satu titik misalnya di Bitung atau Sorong.

Antoni menegaskan tujuan ekspor dari sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) itu ke negara-negara seperti China, Taiwan, Jepang atau Korea yang berada di utara Indonesia. Sebaliknya, titik-titik pusat ekspor ada di selatan yakni Pulau Jawa.

Dengan begitu demi efisiensi bisa saja dibuat pusat ekspor di wilayah yang lebih ke utara. Adapun jumlah kontainer berpendingin yang dimiliki oleh kapal-kapal tol laut yakni sebanyak 67 unit. Jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan angkut perikanan apalagi jika seluruhnya melalui kapal tol laut.

Di sisi lain, trayek tol laut tidak dapat melakukan pelayaran langsung dari SKPT ke wilayah konsumsi seperti Pulau Jawa. Kapal tol laut mesti singgah di sejumlah pelabuhan untuk memenuhi kebutuhan daerah 3T (terluar, terdepan, tertinggal).

"Jalur tol laut memang tidak bisa langsung direct yang dapat memperpendek waktu pelayaran, tetap harus mampir ke tempat-tempat disinggahi," katanya.

Di sisi lain, tarif kontainer berpendingin tol laut memiliki harga yang jauh lebih murah dari tarif komersial biasanya. Tarif komersial bahkan dapat lebih mahal 2-3 kali dari tarif tol laut karena tarif tol laut bersubsidi. Kondisi ini membuat produsen saling berebut kursi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik industri perikanan Tol Laut
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top