Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Makanan-Minuman Bersiap! Kemenperin Bakal Batasi Impor 4 Produk Ini

Kementerian Perindustrian mendorong pengurangan impor empat bahan baku utama dalam industri makanan dan minuman dalam 3 tahun mendatang.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 10 November 2020  |  10:34 WIB
Suasana pabrik kertas di salah satu fasilitas Asian Pulp and Paper (APP), perusahaan yang membawahkan PT Pindo Deli Pulp andPaper Mills, induk dari Lontar Papyrus. - asianpulppaper
Suasana pabrik kertas di salah satu fasilitas Asian Pulp and Paper (APP), perusahaan yang membawahkan PT Pindo Deli Pulp andPaper Mills, induk dari Lontar Papyrus. - asianpulppaper

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perindustrian mengharapkan investor melirik investasi sektor pengolahan susu, pengolahan buah, gula berbasis tebu dan kertas guna menekan impor.

Keempat sektor ini memiliki potensi dikembangkan di dalam negeri. Meski begitu sejauh ini masih mengandalkan bahan baku dari impor.

"Impor yang diharapkan turun yakni industri pengolahan susu, industri pengolahan buah, industri gula berbasis tebu, dan industri kertas sebesar 20,54 persen atau senilai Rp32,8 miliar," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang melalui siaran pers, Selasa (10/11/2020).

Untuk itu, Agus mengatakan pemerintah akan mendorong penurunan impor untuk keempat produk ini dalam 3 tahun ke depan. Saat yang sama, investasi baru maupun peningkatan produksi di dalam negeri akan dipacu.

Saat ini Kemenperin mencatat terdapat  25 proyek baru pada sektor makanan dan minuman (mamin) dengan nilai investasi Rp30 triliun. Investasi tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah mencapai target pengembangan industri mamin saat ini.

Adapun sepanjang kuartal III/2020, sumbangsih industri agro masih signifikan terhadap PDB sektor pengolahan nonmigas atau mencapai 52,94 persen. Perinciannya, industri makanan dan minuman dengan sumbangsih mencapai 39,51 persen. Selanjutnya, diikuti industri pengolahan tembakau (4,8 persen), industri kertas dan barang dari kertas (4,22 persen), serta industri kayu, barang dari kayu, rotan dan furnitur (2,84 persen).

Di tengah pertumbuhan industri nonmigas yang terkontraksi 4,20 persen, industri makanan dan minuman tumbuh tipis sebesar 0,66 persen.

Adapun pada Januari-Agustus 2020, total nilai ekspor industri agro menembus US$29,27 miliar atau berkontribusi 35,36 persen pada ekspor sektor manufaktur sebesar US$82,76 miliar.

“Dari realisasi nilai investasi PMA dan PMDN di sektor industri pengolahan nonmigas yang mencapai Rp201,9 triliun pada Januari-September 2020, kontribusi industri agro sebesar Rp91,9 triliun. Ini salah satu bukti bahwa industri agro masih bergeliat di tanah air,” kata politisi dari Partai Golkar ini.

Agus menambahkan, pengembangan industri agro di Indonesia cukup prospektif. Potensi ini antara lain karena didukung pasar domestik yang besar, sumber daya pertanian yang berlimpah sebagai sumber bahan baku industri agro dalam negeri, perubahan pola konsumsi konsumen yang cenderung beralih ke makanan kemasan modern, serta munculnya pemain-pemain industri agro nasional yang sudah mampu bersaing di tingkat global.

“Dengan adanya peluang tersebut, kebijakan pemerintah dalam pembangunan industri agro adalah menjadikan Indonesia menjadi pemain terkemuka di pasar regional dengan strategi utama melalui peningkatan ekspor produk industri agro serta mengurangi ketergantungan impor bahan baku, bahan penolong, dan barang modal,” tandasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertambangan kemenperin ekonomi indonesia
Editor : Anggara Pernando
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top