Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Libur Panjang, Hotel di Sejumlah Destinasi Wisata Terisi Penuh

Gelombang wisatawan domestik pada periode libur panjang sejak 28 Oktober - 1 November 2020 mampu mendongkrak tingkat hunian hotel di daerah-daerah tersebut hingga 100 persen.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 29 Oktober 2020  |  20:00 WIB
Ilustrasi hotel
Ilustrasi hotel

Bisnis.com, JAKARTA -- Libur panjang yang jatuh pada akhir Oktober 2020 menjadi berkah bagi sektor perhotelan di sejumlah destinasi wisata. Destinasi-destinasi seperti Bogor, Bandung, Cirebon, dan Yogyakarta menjadi daerah yang mendapatkan berkah dari libur panjang kali ini.

Menurut Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Budijanto Ardijansjah pemesanan kamar hotel di daerah-daerah tersebut yang sebagian besar dilakukan via platform daring melonjak tinggi.

"Tingkat hunian hotel bagus. Terutama di tempat wisata seperti Bandung, kawasan Puncak Bogor, Yogyakarta, dan Pangandaran. Rata-rata sudah fully booked dengan tingkat penghunian hotel 90-100 persen," kata Budijanto kepada Bisnis, Kamis (29/10/2020).

Gelombang wisatawan domestik pada periode libur panjang sejak 28 Oktober - 1 November 2020 dikatakan mampu mendongkrak tingkat hunian hotel di daerah-daerah tersebut hingga 100 persen dibandingkan dengan masa hari kerja atau weekdays.

Bahkan, lanjut Budijanto, lebih tinggi dibandingkan dengan lonjakan yang juga sudah mulai terjadi pada akhir pekan biasa, yang menurut estimasi Asita, memiliki rata-rata okupansi hotel 50-60 persen untuk daerah-daerah wisata di Pulau Jawa yang dapat diakses melalui jalur darat.

Lonjakan angka okupansi yang terjadi di sejumlah wilayah pada liburan panjang ini diakui oleh pelaku usaha sebagai hal yang cukup menggembirakan. Pasalnya, menurut data BPS, tingkat penghunian kamar hotel berbintang dari Januari-Agustus 2020 turun 16,24 persen akibat terdampak pandemi Covid-19.

Namun, dia menilai masih terdapat sejumlah hal yang harus dilakukan oleh pemerintah. Terutama, untuk memperluas penyebaran wisatawan agar lebih merata, yang mana saat ini didominasi oleh pelancong asal DKI Jakarta.

Selain menurunkan harga tiket pesawat, jelasnya, pemerintah juga harus menambah jumlah bandara yang membebaskan wisatawan dari pajak bandara. Saat ini, kata Budijanto, jumlah bandara yang tidak mengenakan airport tax hanya 13 bandara.

"Target market utamanya kan masih masyarakat Jakarta. Ke depannya harus diperluas target marketnya," sambungnya.

Perlu juga diketahui, untuk pengawasan pelaksanaan protokol kesehatan pemerintah saat ini menjalankan pengecekan secara acak terhadap wisatawan di destinasi wisata.

"Sudah ada random checking untuk wisatawan di destinasi wisata sebagai bentuk pengawasan dari pemerintah. Kita harapkan ini bisa menimbulkan trust dan orang makin berani berwisata lagi," tegasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hotel pariwisata Liburan okupansi hotel
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top