Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Transisi Energi, Faktor Ekonomi Perlu Diperhitungkan

PNBP dari sektor minerba pada 2019 mencapai Rp45 triliun dan tercatat menjadi penyumbang terbesar kedua setelah sektor migas.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 27 Oktober 2020  |  19:36 WIB
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan - Bisnis
Petugas mengawasi proses penimbunan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Dalam peralihan menuju energi baru dan terbarukan, selain aspek lingkungan, pemerintah diminta untuk memperhatikan aspek ekonomi yang timbul akibat transisi tersebut.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan bahwa energi fosil memiliki daya dukung ekonomi yang berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional.

Pasalnya, sektor minyak dan gas bumi serta batu bara menjadi penyumbang penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terbesar. Hingga saat ini, sektor migas dan batu bara masih memiliki potensi yang sangat besar.

"[Transisi energi] Negatif impact-nya luar biasa terhadap pendapatan negara," ujarnya dalam konferensi virtual 31 Tahun Hari Jadi APBI-ICMA pada Selasa (27/10/2020).

Dia menjelaskan PNBP dari sektor minerba pada 2019 mencapai Rp45 triliun dan tercatat menjadi penyumbang terbesar kedua setelah sektor migas. Sementara itu, sektor energi baru dan terbarukan hanya baru menyumbang PNBP yang relatif kecil yakni sekitar Rp3 triliun per tahun.

"Kita tidak bisa meniadakan investment di batu bara karena sekitar US$6-US$8 miliar per tahu,n ini luar biasa besar, batu bara ini TKDN [tingkat komponen dalam negeri]-nya cukup besar, pengaruhnya terhadap perekonomian daerah cukup besar," ungkap Komaidi.

Ketua Komite Tetap Bidang Mineral dan Batu Bara Kamar Dagang Indonesia Dharma Djojonegoro mengatakan, pada saat ini industri batu bara tertekan oleh dua sentimen yaitu faktor lingkungan dan harga.

Dharma mengatakan transisi energi tidak bisa hanya dikaji dari aspek lingkungan, tetapi perlu memperhatikan aspek ekonomi yang ditimbulkan dari peralihan energi fosil ke energi bersih.

Namun, transisi energi tersebut mau tidak mau harus dihadapi, sehingga para pengusaha batu bara harus siap untuk menyiapkan strategi untuk masuk ke masa transisi.

"Menurut saya mesti menerima kenyataan renewable ini will come, jadi kita mesti bersiap-siap untuk transisi, kalau sekarang sepenuhnya ke PLTU, karena perlu dukungan pemerintah untuk melakukan transisi," kata Dharma.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sammy Hamzah mengatakan pemerintah harus segera memiliki peta jalan yang jelas terkait dengan arah transisi energi.

Pasalnya, hal itu akan memudahkan para pengusaha di sektor minerba untuk menyiapkan strategi ke depannya untuk menghadapi transisi energi dan mengkaji dampaknya. Menurut dia, faktor ekonomi tidak bisa dilepaskan dari transisi energi.

"Tentang pendapatan negara, transformasi ini harus benar-benar melihat holistik, kegiatan ekomominya jangan sampai nanti terbaikan, saya mengimbau, harapannya pemerintah formulasikan roadmap yang lebih jelas lagi agar kami dari pengusaha lebih menyesuaikan diri," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas batu bara industri nonmigas
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top