Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ngenes! Peringkat Inovasi dan Digitalisasi Indonesia di Bawah Rata-Rata Asean

Berdasarkan data Asian Development Bank (ADB) pada 2020, tingkat inovasi dan digitalisasi Indonesia hanya sebesar 0,08, jauh di bawah Thailand dan Vietman yang masing-masingnya sebesar 0,62 dan 0,44.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 20 Oktober 2020  |  15:56 WIB
Ilustrasi transformasi digital - Flickr
Ilustrasi transformasi digital - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA - Inovasi dan digitalisasi di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain di tingkat Asean.

Berdasarkan data Asian Development Bank (ADB) pada 2020, tingkat inovasi dan digitalisasi Indonesia hanya sebesar 0,08, jauh di bawah Thailand dan Vietman yang masing-masingnya sebesar 0,62 dan 0,44.

Peringkat Indonesia ini juga tercatat lebih rendah dari Filipina dan Kamboja yang masng-masingnya tercatat sebesar 0,14 dan 0,12. Sementara secara rata-rata inovasi dan digitalisasi negara-negara Asean berada pada level 0,70.

Hal ini disampaikan oleh Staf Khusus Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal Regional Titik Anas dalam acara Webinar Strategi Pemulihan Ekonomi PascaCovid-19 dan Peningkatan Kemudahan Berusaha Indonesia, Selasa (20/10/2020).

"Digitalisasi kita masih rendah. Laporan ADB, inovasi dan digitalisasi [Indonesia] masih rendah dibanding negara-negara lain di Asean," katanya.

Selain itu, dia memaparkan Indonesia juga dihadapkan pada masalah produktivitas yang rendah. Berdasarkan data Productivity Database 2019 Asian Productivity Organization (APO), total factor productivity terus mengalami penurunan sejak 2012.

APO juga mencatat capital productivity Indonesia menurun. Titik menjelaskan, data-data tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia tidak efisien. Bahkan, ekonomi Indonesia tidak bergerak sejak 25 tahun terakhir.

"25 tahun terakhir kita gitu-gitu saja di dunia, kita adalah eskportir kecil, di 1994 kita eksportir kecil, sekarang juga eksportir kecil. Beda misalnya China dari kecil jadi besar. Beberapa negara lain juga ada yang bertransformasi," jelasnya.

Titik mengatakan, perlu diciptakan faktor-faktor yang bisa lebih mendukung transformasi ekonomi, misalnya efisiensi pasar tenaga kerja, infra ditingkatkan, perbaikan institusi, diversifikasi produk, hingga peningkatan inovasi.

Hal ini dilakukan agar Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap), menjadi negara maju sehingga terwujudnya masyarakat yang sejahtera.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan saat ini Indonesia sedang menjalani transformasi teknologi dan digital.

Terkhusus pada masa pandemi Covid-19, transformasi digital semakin dibutuhkan dan akan berjalan dengan sangat cepat. Penggunaan teknologi menurutnya akan bisa mendorong peningkatan produktifitas.

"Ini akan jadi bagian besar yang perlu dipersiapkan," ujarnya.

Meski demikian, Yose mengatakan dari sisi pendidikan, sebagian besar tenaga kerja di Indonesia masih belum siap dalam penggunaan teknologi meski akan sangat berdampak pada produktivitas.

Oleh karena itu, imbuhnya, masih banyak hal yang harus diperbaiki terkait dengan ketenagakerjaan di Indonesia, yang harus diterjemahkan dalam bentuk kebijakan yang dapat meningkatkan keahlian dan kompetensi tenaga kerja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asean digitalisasi inovasi teknologi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top