Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sulit Pembeli, Pemkab Sabu Setop Perluasan Tambak Garam

Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua Provinsi Nusa Tenggara Timur menyatakan kesulitan mencari pabrikan pengguna garam sepanjang 2020. Alhasil, pemerintah Sabu Raijua urung menambah investasi tambak garam dalam waktu dekat
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 20 Oktober 2020  |  19:06 WIB
Petani garam. Sejak 2015 hasil garam Sabu Raijua telah diserap oleh industri tekstil dan makanan. Pihaknya selama ini mendistribusikan garam ke Surabaya dan beberapa daerah di Pulau Sumatra.  - Ilustrasi
Petani garam. Sejak 2015 hasil garam Sabu Raijua telah diserap oleh industri tekstil dan makanan. Pihaknya selama ini mendistribusikan garam ke Surabaya dan beberapa daerah di Pulau Sumatra. - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua Provinsi Nusa Tenggara Timur menyatakan kesulitan mencari pabrikan pengguna garam sepanjang 2020. Alhasil, pemerintah Sabu Raijua urung menambah investasi tambak garam dalam waktu dekat

Bupati Sabu Raijua Nikodemus N. Rihi Heke mengatakan hal tersebut diperburuk dengan masuknya musim penghujan dalam waktu dekat. Menurutnya, hal tersebut berpotensi menghilangkan sebagian hasil produksi garam petambak tahun ini.

"Saat ini, gudang penampung garam sebanyak 120 unit dengan daya tampung 200 ton per gudang sudah penuh. Kami terpaksa menampung garam di luar gudang, hal ini [membuat garam] sangat rentan mencair saat musim hujan jika tidak segera terjual," tulisnya dalam surat kepada Presiden Joko Widodo, Selasa (20/10/2020).

Dengan kata lain, saat ini telah ada lebih dari 24.000 ton di Sabu Raijua. Adapun, Nikodemus mendata kapasitas produksi petambak lokal mencapai 24.480 ton per tahun.

Sementara itu, ada sekitar 10.000 ton garam sisa produksi 2018-2019. Artinya, saat ini ada sekitar 30.400 tin garam di gudang Sabu Raijua, dengan potensi garam yang hilang sebanyak 6.400 karena musim penghujan.

Nikodemus mencatat kualitas garam produksi di wilayahnya memiliki kemurnian NaCl hingga 96,2 persen. Pasalnya, seluruh tambak di Sabu Raijua telah menggunakan teknologi geomembran.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendata sektor manufaktur membutuhkan setidaknya sekitar 2,9 juta ton garam sepanjang 2020. Adapun, dua sektor yang memiliki kebutuhan garam terendah adalah industri farmasi dan kosmetik (7.564 ton) dan industri pengeboran minyak (79.500 ton).

Sementara itu, dua sektor manufaktur dengan konsumsi terbanyak adalah industri chlor alkali plant (CAP) sebanyak 2,3 juta ton dan industri makanan dan minuman (mamin) sekitar 543.785 ton. Adapun, izin impor yang diberikan oleh pemerintah adalah 2,8 juta ton pada tahun ini.

Industri farmasi dan kosmetik membutuhkan kadar kemurnian NaCl minimal 99 persen. Sementara industri CAP dan industri mamin masing-masing membutuhkan kadar NaCl hingga 96 persen dan 94 persen.

Dengan kata lain, garam dari Sabu Raijua seharusnya bisa diserap oleh industri CAP dan industri mamin. Namun, masalah kedua yang dihadapi petambak asal Sabu Raijua adalah lokasinya yang jauh.

Alhasil, Nikodemus menyampaikan pihaknya telah menurunkan harga jual dari Rp1.200-Rp1.500 per Kilogram menjadi Rp500-Rp700 per Kilogram. Dengan kata lain, harga garam Sabu Raijua telah dikoreksi sekitar 55 persen pada tahun ini.

"Pemerintah Sabu Raijua membuka peluang bagi pengusaha yang dapat menjadi distributor garam Sabu Raijua di luar pulau baik di Kupang, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, dan Papua. Kami sangat membutuhkan pembeli yang potensial untuk membeli garam yang jumlahnya sudah mencapai 15.000 ton lebih," ucapnya.

Terpisah, Kepala Badan Pembangunan Daerah Sabu Raijua Lagabus Pian mengatakan sejak 2015 hasil garam Sabu Raijua telah diserap oleh industri tekstil dan makanan. Pihaknya selama ini mendistribusikan garam ke Surabaya dan beberapa daerah di Pulau Sumatra.

Menurutnya, tambak garam di Sabu Raijua merupakan hasil dari investasi langsung pemerintah daerah. Adapun, investasi tersebut telah menyerap 882 orang tenaga kerja.

Lagabus mendata saat ini potensi lahan tambak garam baru terpakai sekitar 5,1 persen. Dengan kata lain, produksi garam di Sabu Raijua dapat mencapai sekitar 480.019 ton per tahun jika potensi lahan tambak Sabu Raijua dimaksimalkan.

"Seara [potensi] kami bisa [bangun] sampai 2.000 hektar, hanya saja baru terbangun 102 hektar. Kalau lihat kondisi pasar begini, kami masih agak pikir-pikir tambah luasan produksi," katanya kepada Bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tambak garam garam industri
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top