Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengaruh Jepang di Industri Tekstil Kuat, Tapi Investasi Baru Lemah

Pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menilai pengaruh Jepang dalam perjalanan pengembangan TPT di Tanah Air cukup kental. Sayangnya, belakangan tak terdengar lagi minat industri TPT untuk membangun pabrik di sini.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 20 Oktober 2020  |  18:00 WIB
Ilustrasi benang. Dari empat perusahaan besar yang dulu ada di Indonesia, sekarang hanya tersisa dua yakni PT Mitsubishi Chemical yang memproduksi PTA dan polyethylene terephthalate (PET) dan Toray Group.  - Bloomberg/David Paul Morris
Ilustrasi benang. Dari empat perusahaan besar yang dulu ada di Indonesia, sekarang hanya tersisa dua yakni PT Mitsubishi Chemical yang memproduksi PTA dan polyethylene terephthalate (PET) dan Toray Group. - Bloomberg/David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menilai pengaruh Jepang dalam perjalanan pengembangan TPT di Tanah Air cukup kental. Sayangnya, belakangan tak terdengar lagi minat industri TPT untuk membangun pabrik di sini.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta mengatakan Jepang sudah masuk diindustri TPT Indonesia sejak awal sekali atau sekitar tahun 1970-an. Bahkan, manajemen perusahaan yang dibawa kini sangat berpengaruh pada industri lokal.

"Jepang ini mewarnai investasi kita mulai dari hulu dengan mendirikan industri penunjang serat polyester seperti pabrik PTA [pure terepthalic acid], benang, hingga kain. Tenaga ahlinya juga berhasil membangun budaya di sini," katanya kepada Bisnis, Selasa (10/20/2020).

Namun, dari empat perusahaan besar yang dulu ada di Indonesia, sekarang hanya tersisa dua yakni PT Mitsubishi Chemical yang memproduksi PTA dan polyethylene terephthalate (PET) dan Toray Group.

Sementara dalam kurun waktu terakhir ini, menurut Redma, belum ada lagi rencana investasi TPT Jepang yang akan masuk di Indonesia. Justru yang terjadi, rencana ekspansi Mitsui untuk TPA yang tak kunjung terjadi.

"Itu sekitar 3-5 tahun lalu dilihat dari kinerja bahan baku kita seharusnya hitungan Mitsui masuk untuk ekspansi tetapi melihat impor kain yang deras juga jadi mereka tidak jadi," ujar Redma.

Dia pun menilai jika pemerintah ingin kembali banyak menarik investasi Jepang kuncinya adalah birokrasi yang baik. Pasalnya, pengusaha Jepang sangat tinggi dalam menjunjung harga diri dan tidak bisa dengan budaya suap atau korupsi.

Selain itu, Jepang juga akan membandingkan biaya produksi antarnegara. Dia mencontohnkan perbandingan harga gas di Indonesia yang dulu pada level US$9 dinilai sangat tinggi dibanding negara lain yang menawarkan US$4.

"Seperti Toray itu kan utilitas fiber dan filamennya selalu 90 persen tetapi kapasitasnya tidak pernah lebih besar dari misalkan Indorama, padahal bisa saja ekspansi tetapi karena mereka lihat untuk apa ditingkatkan jika tidak terserap," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Industri Tekstil Investasi Jepang
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top