Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja Dagang Terjaga, Kemendag : Optimisme Pemulihan Menjanjikan

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca dagang Indonesia surplus US$2,44 miliar pada September.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 16 Oktober 2020  |  06:36 WIB
Aktivitas perdagangan di pelabuhan - Bisnis.com
Aktivitas perdagangan di pelabuhan - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Didi Sumedi mengatakan optimisme pemulihan ekonomi turut menjadi faktor pendorong positifnya kinerja perdagangan Indonesia pada September.

“Memang PMI September anjlok menjadi 47,2 karena PSBB dan seolah menunjukkan demand turun dalam jangka pendek. Tapi impor bahan baku dan penolong naik, artinya industri tidak masalah, ada optimisme ke depan,” kata Didi saat dihubungi, Kamis (15/10/2020).

Didi mengharapkan sinyal positif ini akan berlanjut di 3 bulan terakhir 2020 dan perlahan membawa angin segar bagi kinerja industri dalam negeri. Selain itu, sisi permintaan global pun disebut Didi menunjukkan perbaikan serupa.

“Optimisme recovery menjanjikan, terlihat dari ekspor ke negara tujuan utama seperti China, Jepang, dan Amerika Serikat yang naik. Hal ini sejalan dengan penanganan Covid-19 masing-masing negara,” lanjutnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca dagang Indonesia surplus US$2,44 miliar pada September. Performa ini tercapai dari nilai ekspor sebesar US$14,01 miliar dan impor senilai US$11,57 miliar.

Surplus sendiri tercapai lewat ekspor yang naik 6,97 persen secara bulanan dan impor yang meningkat 7,71 persen dibandingkan dengan Agustus 2020.

Meski kenaikan impor bulanan lebih tinggi daripada ekspor, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kinerja impor tetap dalam koridor positif karena didorong oleh peningkatan impor komponen bahan baku/penolong dan modal.

Impor bahan baku membukukan nilai US$8,32 miliar atau naik 7,23 persen. Kenaikan di antaranya disumbang oleh kenaikan pada impor gandum dari Ukraina dan gula mentah dari Thailand.

Sementara itu, barang modal pun mengalami kenaikan impor secara bulanan sebesar 19,01 persen menjadi US$2,13 miliar yang disumbang oleh impor mesin dan bagiannya serta perlengkapan elektrik.

Untuk jangka pendek dan menengah, Didi mengatakan bahwa Kementerian Perdagangan tengah menggodok sejumlah strategi.

Salah satunya adalah penyusunan skema imbal dagang demi mengakomodasi perdagangan dengan mitra yang devisanya terimbas sepanjang pandemi.

“Selama pandemi banyak negara yang devisanya tergerus karena ekspor yang terganggu. Mungkin ke depannya bisa kita tawarkan imbal dagang untuk komoditas yang saling dibutuhkan kedua pihak,” kata Didi.

Meski demikian, dia tak memungkiri bahwa proses penyusunan skema imbal dagang bakal memakan waktu sebagaimana perumusan perjanjian dagang. Didi mengatakan ke depannya skema ini bakal lebih menitikberatkan pada keterlibatan pelaku bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan pemulihan ekonomi
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top