Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Top! Pasuruan Punya Cocoa Technical Center (PCTC)

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan penelitian di industri kakao masih sangat terbatas, sementara kapasitas terpasang industri hilir kakao terus tumbuh. Oleh karena itu, Kemenperin mengapresiasi pendirian Pasuruan Cocoa Technical Center (PCTC).
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 07 Oktober 2020  |  16:17 WIB
Cokelat. Industri pengolahan kakao terpaksa melakukan impor bahan baku dari berbagai negara produsen biji kakao, contohnya Pantai Gading, Ghana, Kamerun, Nigeria, dan Ekuador.  - Antara
Cokelat. Industri pengolahan kakao terpaksa melakukan impor bahan baku dari berbagai negara produsen biji kakao, contohnya Pantai Gading, Ghana, Kamerun, Nigeria, dan Ekuador. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan penelitian di industri kakao masih sangat terbatas, sementara kapasitas terpasang industri hilir kakao terus tumbuh. Oleh karena itu, Kemenperin mengapresiasi pendirian Pasuruan Cocoa Technical Center (PCTC).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan butuh dukungan dari seluruh pemangku kepentingan untuk mengembangkan penelitian industri kakao. Agus menilai pendirian PCTC penting lantaran kontribusi biji kakao lokal turun menjadi 45 persen dari total kapasitas produksi per 2019.

"Kami sangat menyambut baik dengan didirikannya PCTC oleh Mondelez International, Inc. senilai Rp190,5 miliar seluas 5 hektar di Pasuruan," katanya dalam konferensi pers virtual, Rabu (7/10/2020).

Agus mendata kontribusi biji kakao lokal hanya 45,6 persen atau 196.787 ton pada industri kakao nasional. Alhasil, pabrikan kakao domestik harus mengimpor biji kakao sekitar 234.000 ton untuk mengisi sekitar 54 persen kapasitas produksi.

Adapun, realisasi kontribusi biji kakao lokal turun dari tahun sebelumnya yakni sekitar 200.000 ton atau 48 persen dari total kapasitas produksi. Walakin, pabrikan kakao nasional pada intinya tetap harus mengimpor biji kakao untuk mengisi kapasitas produksi pabrikan setidaknya sejak 2018.

"Industri pengolahan kakao terpaksa melakukan impor bahan baku dari berbagai negara produsen biji kakao, contohnya Pantai Gading, Ghana, Kamerun, Nigeria, dan Ekuador," ucapnya.

Menurutnya, salah satu masalah utama petani kakao di dalam negeri adalah rendahnya produktivitas tanaman. Agus mencatat produktivitas petani kakao di dalam negeri hanya 0,8 ton per hektar.

Oleh karena itu, Agus berharap pendirian PCTC dapat meningkatkan produktivitas petani kakao nasional dengan teknologi yang inovatif dan berkelanjutan. Adapun, PCTC merupakan pusat penelitian ke-12 milik Mondelez International yang tersebar di seluruh dunia.

Di samping itu, Agus juga mengapresiasi investasi yang telah dilakukan Mondelez International sejak 2012. Adapun, Mondelez telah mengucurkan sekitar US$400 juta atau setara dengan Rp5,9 triliun (kurs: Rp14/.784) pada 2012 untuk memberdayakan 200.000 petani kakao.

Berdasarkan catatan Mondelez, saat ini PT mondelez Indonesia Manufacturing telah memasok 63 persen bahan bakunya dari 43.000 petani tembakau dalam program Cocoa Life. Adapun, pabrikan menargetkan dapat memasok seluruh bahan bakunya dari petani lokal pada 2025.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pasuruan cokelat
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top