Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Stimulus Pemerintah Cegah Krisis, UKM Manufaktur Perlu Peningkatan

Usaha kecil dan menengah (UKM) bisa menjadi faktor kunci perekonomian untuk mencegah krisis berkelanjutan.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 02 Oktober 2020  |  18:36 WIB
Presiden RI Joko Widodo (kedua kanan) dan Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin (kanan) berbincang-bincang dengan para penerima Bantuan Presiden (Banpres) Produktif bagi pelaku usaha mikro di Jakarta, Senin (24 Agustus 2020). BNI dipercaya oleh Kementerian Koperasi dan UKM untuk menyalurkan Banpres Produktif bagi pelaku usaha mikro yang merupakan nasabah PNM Mekaar dengan jumlah sebesar Rp2,4 juta per orang.  -  Dok. BNI\n\n
Presiden RI Joko Widodo (kedua kanan) dan Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin (kanan) berbincang-bincang dengan para penerima Bantuan Presiden (Banpres) Produktif bagi pelaku usaha mikro di Jakarta, Senin (24 Agustus 2020). BNI dipercaya oleh Kementerian Koperasi dan UKM untuk menyalurkan Banpres Produktif bagi pelaku usaha mikro yang merupakan nasabah PNM Mekaar dengan jumlah sebesar Rp2,4 juta per orang. - Dok. BNI\\n\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Stimulus dari pemerintah masih memegang peran kunci untuk menutupi gap dan mencegah krisis berkelanjutan. Salah satu yang mendapat bantuan adalah usaha kecil dan menengah (UKM).

Kepala Ekonom BCA, David Sumual mengatakan bahwa UKM Indonesia saat ini didominasi oleh sektor perdagangan. Stimulus yang berlebihan bisa saja memicu peningkatan impor.

“Pemerintah perlu mendorong UKM manufaktur dan meningkatkan kapasitas UKM via digitalisasi dan up-skilling sumber daya manusianya,” katanya melalui diskusi virtual, Jumat (2/10/2020).

David menjelaskan bahwa untuk mencegah efek samping tersebut, stimulus harus juga memperkuat produktivitas ekonomi (supply side).

Di antaranya lewat padat karya, proyek infrastruktur, pengembangan pangan (food estate), dan kebijakan industrial yang di dalamnya termasuk hilirisasi, subtitusi impor, serta kemitraan industri besar dan UKM.

Sementara itu, pemerintah perlu melakukan digitalisasi sebagai upaya menghubungi UMKM dengan pasar yang lebih luas, maupun domestik atau internasional. Dukungan dari pihak terkait lain dengan melatih keahliam menjadi faktor pendukung penting.

Perdagangan elektonik bisa ditingkatkan untuk mendorong kinerja usaha domestik secara inklusif di tengah pandemi. Namun risiko peningkatan impor perlu diwaspadai.

“Krisis tak bisa dilihat hanya sebagai keadaan darurat, tapi juga kesempatan untuk melakukan perombakan menyeluruh terhadap ekonomi,” jelas David.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi ukm krisis
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top