Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Habis PSBB Jakarta, Kimia Dasar Hadapi Potensi Disrupsi RUU Cipta Kerja

Setelah menghadapi dampak PSBB Jakarta dan sejumlah wilayah lainnya, industri kimia dasar dihadapkan pada potensi disrupsi yang ditimbulkan dari pengesahan RUU Cipta Kerja pada awal Oktober 2020.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 02 Oktober 2020  |  15:50 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah menghadapi dampak PSBB Jakarta dan sejumlah wilayah lainnya, industri kimia dasar dihadapkan pada potensi disrupsi yang ditimbulkan dari pengesahan RUU Cipta Kerja pada awal Oktober 2020.

Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Anorganik (Akida) Michael Susanto Pardi mengatakan produksi kimia dasar secara konsolidasi pada tahun ini akan anjlok 10-30 persen, mengingat realisasi 9 bulan pertama lebih rendah dari periode yang sama pada 2019.

"Alih-alih ada keajaiban, akan ada potensi distrupsi pada kuartal IV/2020. Adapun, potensi distrupsi tersebut akan datang dari pengesahan RUU Cipta Kerja pada awal Oktober 2020," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (2/2/2020).

Michael memproyeksikan pihak buruh akan melakukan demonstrasi saat RUU tersebut disahkan lantaran mayoritas buruh menilai hak mereka akan dipotong dengan pengesahan RUU tersebut.

Menurutnya, potensi demonstrasi tersebut akan menambah beban pabrikan kimia dasar. "Kalau dibilang tidak ada demo, menurut saya sih agak aneh," katanya.

Kimia dasar adalah kategori kimia yang di dalamnya termasuk polimer, petrokimia dan turunannya, bahan kimia anorganik, dan pupuk.

Sub-kategori terbesar kimia dasar adalah plastik dan serat, mencakup polietilena, polivinil klorida (PVC), polipropilena (PP), polistirena (PS), dan produk lainnya seperti serat sintetis termasuk poliester, nilon, dan serat akrilik.

Sebelumnya, industri kimia dasar menghadapi tekanan akibat diperlakukannya kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jakarta dan sejumlah wilayah lainnya.

Menurutnya, kembali berlakunya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Ibu Kota membuat proyeksi pabrikan kimia dasar runyam. Pasalnya, industri meramalkan utilisasi pabrikan akan sedikit terangkat pada September 2020, namun Pemprov DKI Jakarta justru kembali membatasi pergerakan manusia dan barang.

"[PSBB penuh] ini akibatnya terjadi hambatan di banyak hal. Karyawan pergi ke pabrik susah. Pengiriman bahan baku terhambat. Pengiriman barang jadi yang dibutuhkan industri hulu jadi berantakan," katanya.

Penurunan aktivitas pabrikan pada September ditunjukkan dengan Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia yang turun dari 50,8 pada Agustus ke 47,2 pada September 2020 menjadi perhatian serius pemerintah.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kimia dasar indeks manufaktur cipta kerja
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top