Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Jual Kedalai Edamame Tinggi, Masa Tanam lebih Pendek

Kedelai Edamame asal Jepang kini menjadi favorit petani di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), karena harga jualnya tinggi dengan masa tanam yang lebih pendek dibandingkan dengan kedelai konvensional.
Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin - Bisnis.com 19 September 2020  |  16:10 WIB
Kedelai Edamame asal Jepang kini menjadi favorit para petani di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terlihat kegiatan  panen kedelai Edamame di Dusun Cepoko, Desa Trirenggo, Bantul, Jumat (18/9).  - Harian Jogja/Ujang Hasanudin.
Kedelai Edamame asal Jepang kini menjadi favorit para petani di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terlihat kegiatan panen kedelai Edamame di Dusun Cepoko, Desa Trirenggo, Bantul, Jumat (18/9). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin.

Bisnis.com, BANTUL - Kedelai Edamame asal Jepang kini menjadi favorit petani di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), karena harga jualnya tinggi dengan masa tanam yang lebih pendek dibandingkan dengan kedelai konvensional.

Rohmat Sujadi, salah satunya. Petani asal Dusun Cepoko, Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul ini ketagihan untuk menanam kedelai edamame. Awalnya ia menanam di lahan sekitar 1.200 meter persegi dan sudah panen pada Juni lalu. Setelah hasilnya bagus dan banyak permintaan, Rohmat memperluas budi daya kedelai edamame menjadi 3.500 meter persegi.

Petani yang masih menjabat sebagai anggota TNI aktif ini telah merasakan hasilnya dari budi daya edamame. Dalam lahan satu meter panen menghasilkan satu kilogram kedelai edamame. Hasil panen itu ia jual sendiri secara online. Namun lebih banyak yang datang ke rumah untuk memesan edamame bahkan sebelum edamame dipanen sudah dipesan.

“Saya sudah nemaman berbagai tanaman seperti jagung dan kedelai konensional, tapi lebih menguntungkan kedelai edamame,” kata Rohmat, Jumat (18/9) seperti dilaporkan Harianjogja.com, Sabtu (19/9/2020).

Ia tidak menyangka kedelai edamame banyak permintaan sampai luar daerah. Harga dipasaran diakuinya juga cenderung stabil. Selama ini ia menjual Rp15.000 per kilogram untuk ukuran super, Rp12.000 untuk ukuran sedang, dan Rp10.000 untuk ukuran kecil per kilogramnya.

Rohmat menduga tingginya harga kedelai edamame di pasaran karena belum banyak petani yang menanam dan belum mengetahui hasilnya. Edamame memang bukan kedelai yang baisa dibuat untuk bahan tahu dan tempe, melainkan untuk konsumsi langsung. Edamame mengandung serat dan antioksidan yang dapat membantu menurunkan kolesterol.

“Dari sisi harga lebih tinggi dan waktu tanam juga lebih cepat dari kedelai konvensional. Kalau kedelai konvensional butuh waktu 80-90 hari karena butuh benar-benar tua dan kering. Sementara edamame cukup 65 hari atau maksimal 70 hari sudah dipanen,” kata Rohmat.  

Penyuluh Pertanian Kecamatan Bantul, Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Bantul, Febrica Hananta Tur, mengakui kedelai edamame belum memasyarakat di Bantul dan baru beberapa petani yang sudah menanamnya berdasarkan inisiatif sendiri karena tidak ada bantuan benih kedelai edamame.

Bahkan di Kecamatan Bantul sendiri ia menduga tanaman kedelai edamame belum sampai 50 hektare dan terpisah di sejumlah titik, “Memang belum banyak petani yang tahu hasilnya,” kata Febrica.

Febrica mengatakan dari sisi keunggulan, kedelai edamame lebih cepat panen dari kedelai konvensional, selisihnya bisa 20 hari sampai satu bulan. Hasilnya dalam satu hektare juga bisa mencapai 10 ton. Berbeda dengan kedelai konvensional yang satu hektare menghasilkan kedelai kering sekitar 1,3 kwintal. Kedelai konvensional juga membutuhkan penanganan pascapanen seperti pengeringan dan penggilingan, sementara edamame langsung konsumsi sehingga penanganannya lebih simpel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedelai bantul
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top