Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kemenperin Dorong Standardisasi Nikotin Cair

Pengaturan produksi nikotin cair dapat memberi ruang industri ekstraksi nikotin lokal tumbuh.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 18 September 2020  |  18:53 WIB
Ilustrasi rokok vape elektronik. - Bisnis/Abdullah Azzam
Ilustrasi rokok vape elektronik. - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penggodokan standarisasi nikotin cair. Adapun, Kemenperin memberikan sinyal bahwa akan menggodok standar nikotin cair.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim menyatakan saat ini belum ada nikotin cair yang diproduksi di dalam negeri. Namun demikian, Rochim sepakat bahwa pengaturan produksi nikotin cair dapat memberi ruang industri ekstraksi nikotin lokal tumbuh.

"Kalau SNI [Standar Nasional Indonesia] saya sepakat. Kami akan mencari standar yang ada sebagai acuan untuk penyusunan SNI [nikotin cair]," katanya kepada Bisnis, Jumat (18/9/2020).

Rochim berujar standarisasi nikotin cair tersebut diperlukan mengingat karakteristik nikotin cair yang cukup berbahaya. Oleh karena itu, SNI nikotin cair akan memungkinkan industriawan memproduksi nikotin cair dengan tembakau lokal dan tetap mempertimbangkan risiko kesehatan.

Sejauh ini, Rochim berujar belum mendapatkan usulan terkait regulasi yang mengatur produksi nikotin cair yang notabenenya bahan baku cairan vaporizer. Selain itu, perkembangan produksi nikotin cair di dalam negeri masih dalam tahap penelitian.

Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) menyatakan pengembangan produksi nikotin murni yang sesuai dengan kebutuhan industri akan rampung pada pertengahan September 2020. Adapun, kriteria nikotin murni yang dibutuhkan adalah tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa. 

"Sebetulnya [nikotin murni] sudah mulai diproduksi, tapi belum sempurna hasilnya karena di cairan vaporizer kami mix dengan banyak perasa. Kalau warna [nikotin murni] sudah kuning pekat dan ditambah perasa lagi, [konsumen akan] takut untuk beli," kata Sekretaris Umum APVI Garindra Kartasasmita kepada Bisnis.

Garindra menyatakan lahan kebun tembakau sangat menentukan hasil produksi nikotin murni. Menurutnya, pembuatan nikotin murni serupa dengan produksi kopi, rasa nikotin murni akan dipengaruhi oleh tanaman yang tumbuh di sekitar kebun. 

Oleh karena itu, lahan yang dibutuhkan produsen nikotin murni adalah lahan yang steril dari tanaman lain atau cukup luas agar tidak terpengaruh oleh tanaman lain. Garindra menyatakan saat ini setidaknya ada dua kebun tembakau yang sesuai dengan kriteria tersebut, yakni di sekitar Jawa Timur dan Jawa Tengah. 

Adapun, saat ini ada dua bagian tembakau yang dapat dijadikan nikotin murni, yaitu batang dan daun pohon tembakau. Garindra mendata mesin produksi yang tersedia di dalam negeri membutuhkan 20 kilogram daun tembakau atau 1 ton batang pohon tembakau untuk memproduksi 1 Kilogram nikotin murni. 

Dalam waktu dekat, Garindra menyampaikan pihaknya akan mendukung penggunaan batang pohon tembakau sebagai bahan baku produksi nikotin murni. Menurutnya, hal tersebut untuk menghindari konflik dengan industri utama hasil tembakau yakni industri rokok. 

"Kami memberi sumber pemasukan yang [sebelumnya] tidak ada. Biasanya mereka jual daunnya, sekarang batangnya [juga akan] dibeli [oleh industriawan nikotin murni]. Kalau beli daunnya, nanti bentrok dengan industri sebelumnya, tidak elok juga," ucapnya. 

Garindra mencatat saat ini kebutuhan nikotin murni per tahunnya di dalam negeri mencapai 7 ton. Dengan kata lain, setidaknya industri nikotin murni membutuhkan 7.000 ton batang pohon tembakau atau 140 ton daun tembakau. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemenperin standardisasi nikotin Industri Vape
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top