Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jakarta PSBB, Ekonom Proyeksi PDB Nasional Kontraksi Lagi di Kuartal III/2020

Kebijakan PSBB membuka peluang terkontraksinya pertumbuhan ekonomi Indonesia karena DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi dengan sumbangan ekonomi relatif paling besar ke PDB nasional. 
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 10 September 2020  |  20:18 WIB
Petugas Hypermat tengah memindahkan barang belanjaan konsumen. Layanan park and pick up menjadi salah satu layanan baru PT Matahari Putra Prima Tbk. sejak penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). - hypermart.co.id
Petugas Hypermat tengah memindahkan barang belanjaan konsumen. Layanan park and pick up menjadi salah satu layanan baru PT Matahari Putra Prima Tbk. sejak penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). - hypermart.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Pengamat memandang bahwa penerapan kembali pembatasan sosial berskala besar di DKI Jakarta dapat memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Seperti diketahui, pada Rabu (9/9/2020) malam, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk menarik rem darurat dan menerapkan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Selain itu, ganjil-genap untuk kendaraan akan ditiadakan.

Anies memutuskan untuk melakukan PSBB kembali setelah melihat jumlah yang terpapar Covid-19 terus meningkat. Di sisi lain ketersediaan tempat tidur ruang isolasi dan ICU semakin menipis.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa kebijakan ini membuka peluang terkontraksinya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Karena kalau kita lihat secara proporsi, DKI Jakarta ini merupakan salah satu provinsi dengan sumbangan ekonomi relatif paling besar ke PDB nasional. Sekitar 17 persen,” katanya saat dihubungi, Kamis (10/9/2020).

Yusuf menjelaskan bahwa dengan kondisi seperti itu, maka keduanya akan saling berkaitan. Pada triwulan II/2020 contohnya, saat itu pertumbuhan di Ibu Kota minus sekitar 8 persen. Sementara Indonesia 5,32 persen.

PSBB tentu akan menanggung konsekuensi yang cukup besar. Walaupun periode kuartal III akan berakhir, Yusuf tetap yakin ekonomi masih negatif. Alasannya yaitu kebiasaan normal belum berdampak signifikan pada aktivitas dunia usaha.

Meski begitu, kebijakan yang dilakukan Anies menurut Yusuf memang harus dilakukan. Berkaca pada negara lain, apabila ingin mempercepat proses ekonomi, kesehatan yang harus diutamakan.

Akan sulit apabila memulihkan ekonomi tetapi kasus penambahan Covid-19 tidak bisa terbendung. Itulah dampak baik dan buruknya dari PSBB.

Kebijakan pemerintah pusat dengan memberikan stimulus baik itu ke pekerja formal, informal, dan pelaku usaha skala mikro hingga besar sebenarnya sudah tepat. Perlindungan sosial ini bisa membantu permintaan di tengah kegiatan yang terbatas.

Dengan begitu, pemerintah bisa menekan penyebaran tanpa terlalu khawatir roda ekonomi tidak berputar. Momen ini juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan tes massal untuk melacak penyebaran Covid-19.

“Kalau di triwulan II ekonomi -5,32 persen, kami prediksi di triwulan III dengan bantuan dan program lainnya akan berada di -2 persen sampai -4 persen,” jelas Yusuf.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top