Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tony Wenas Ungkap Alasan Proyek Smelter Freeport Tak Menguntungkan

Hingga Juli 2020, realisasi pembangunan smelter katoda tembaga PT Freeport Indonesia baru mencapai 5,86 persen.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 04 September 2020  |  18:25 WIB
Aktivitas di tambang Freeport, Papua. - Bloomberg/Dadang Tri
Aktivitas di tambang Freeport, Papua. - Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengungkapkan bahwa pembangunan proyek smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur berpotensi merugikan perusahaan hingga US$10 miliar.

Tony mengatakan bahwa kerugian tersebut disebabkan pendapatan dari treatment charge and refining charge (TCRC) yang diperoleh tidak sesuai dengan keekonomian proyek.

Selama kurang lebih 20 tahun ini, ongkos TCRC yang sepenuhnya dikendalikan pasar internasional untuk konsentrat tembaga berada pada kisaran US$0,2—US$0,24 per pound, bahkan turun menjadi US$0,18 per pound pada Maret 2020.

"Memang rugi, kalau bilang untung menyesatkan. Kalau kami bangun satu smelter baru tembaga akan memakan biaya US$3 miliar dengan kapasitas sebesar itu. Untuk itu TCRC-nya harus capai US$0,60, sedangkan kalau smelter di tempat lain cukup US$0,20. Jadi, ada spread US$0,40 yang jadi beban PTFI dan itu kalau per tahun US$300 juta. Kalau 20 tahun kan US$6 miliar ditambah pembangunan smelter US$3 miliar jadi, kira-kira hampir US$10 miliar," ujar Tony dalam sebuah webinar, Jumat (4/9/2020).

Menurutnya, yang paling menderita kerugian atas beban tersebut adalah PTFI dan pemegang saham PTFI lainnya, yakni Inalum.

Namun, PTFI tetap berkomitmen melanjutkan pembangunan proyek smelter tersebut sesuai dengan ketentuan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) PTFI.

Hingga Juli 2020, realisasi pembangunan smelter katoda tembaga PTFI baru mencapai 5,86 persen. Realisasi itu berada di bawah perencanaan yang seharusnya pembangunan telah mencapai 10,5 persen pada Juli 2020.

Sementara itu, pembangunan fasilitas precious metal refinery (PMR), yang pembangunannya terpadu dengan smelter katoda tembaga, juga menunjukkan kemajuan yang lambat. Hingga Juli 2020, dari target rencana pengerjaan 14,29 persen, realisasinya baru mencapai 9,79 persen.

Hingga Juli 2020, PTFI telah menggelontorkan dana investasi pembangunan smelter tersebut hingga US$290 juta. Biaya modal yang dianggarkan mencapai US$3 miliar.

Sebelumnya, Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PKS Rofik Hananto mengkritik pernyataan Tony Wenas yang menyebutkan bahwa proyek smelter tembaga tidak menguntungkan.

Menurutnya, proyek tersebut nantinya memberi nilai tambah yang menguntungkan Indonesia, serta dapat membuka lapangan kerja baru.

"PTFI yang mewacanakan proyek smelter merugi tidak tepat. Ini buat bangsa sangat menguntungkan ada added value, membuka lapangan kerja. Itu luar biasa untungkan bangsa dan negara," katanya dalam rapat dengar pendapat, Kamis (27/8/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertambangan Freeport
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top