Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Konsep Hub dan Super Hub Tak Efisien untuk Penerbangan Domestik

Konsep hub dan super hub di bandara dengan penerbangan domestik tidak efisien lantaran saat ini lebih banyak penerbangan point to point.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 07 Agustus 2020  |  01:25 WIB
Petugas melakukan rutinitas pemeriksaan di selasar Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Rachman
Petugas melakukan rutinitas pemeriksaan di selasar Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Arahan Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas pada Rabu (6/8/2020) untuk menentukan bandara hub dan super hub dinilai efektif untuk diterapkan di rute internasional, tetapi kurang efektif untuk rute penerbangan domestik.

Pemerhati penerbangan yang juga anggota Ombudsman Alvin Lie menyampaikan untuk penerapan konsep hub dan super hub di bandara dengan penerbangan domestik tidak efisien karena saat ini lebih banyak penerbangan dari satu titik ke titik lainnya (point to point). Dia mencontohkan untuk Medan-Pontianak, Medan-Balikpapan, tanpa harus transit di Jakarta.

“Tentunya ini perlu diperhatikan sebagai tren ke depan karena jumlah penduduk besar, kebutuhan makin beragam. Kalau semuanya menjadi hub and spoke ini akan menjadi beban besar bagi bandara besar seperti Soetta, Ngurah Rai, dan Bandara Kualanamu,” jelasnya, Kamis (6/8/2020).

Alvin memaparkan beban bandara tersebut menjadi lebih besar yang berdampak terhadap lebih lamanya waktu lepas landas dan pendaratannya. Hal itu sebagai akibat kepadatan pergerakan ketika rute domestik dan internasional yang bertumpuk menjadi satu di bandara tersebut.

“Jadi memang harus dipisahkan untuk internasional bagus untuk hub and spoke, tapi untuk penerbangan ke depan trennya akan berkembang untuk rute-rute point to point, kita manfaatkan bandara daerah yang sudah cukup bagus,” imbuhnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencatat terdapat delapan bandar udara (bandara) internasional di Indonesia yang berpotensi jadi hub dan super hub untuk mentransformasi industri penerbangan dan pariwisata.

Delapan bandara itu adalah bandara Ngurah Rai (Bali), Soekarno Hatta (Banten), Kualanamu (Sumatera Utara), Jogjakarta, Balikpapan (Kalimantan Timur), Hasanuddin (Sulawesi Selatan), Sam Ratulangi (Sulawesi Utara), dan Juanda (Jawa Timur).

Presiden Jokowi meminta jajarannya untuk mengkaji bandara-bandara yang berpotensi jadi hub dan super hub sesuai letak geografis dan karakter wilayahnya.

Pasalnya pemerintah sedang mengkaji kemungkinan untuk menggabungkan BUMN sektor penerbangan dan pariwisata agar industri di kedua sektor tersebut bisa lebih kokoh dan memiliki bisnis yang terakselerasi.

Kepala negara menilai saat ini jumlah hub penerbangan di Indonesia terlalu banyak dan tidak merata. Saat ini, Indonesia memiliki 30 bandara internasional. Dia membandingkan dengan negara lain yang tidak memiliki bandara internasional sebanyak Indonesia.

“Apakah diperlukan sebanyak ini ? Negara-negara lain saya kira tidak melakukan ini. Coba dilihat, dan sembilan persen lalu lintas terpusat hanya di empat bandara, di Soekarno Hatta, Ngurah Rai Bali, Juanda, dan Kualanamu,” ujar dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi penerbangan bandara
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top