Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Insentif Setrum Buat Napas Industri Baja Tambah Panjang

Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) menyatakan telah mengajukan penghapusan ketentuan pakai minimum 40 jam nyala sejak akhir kuartal I/2020 saat pandemi Covid-19 mulai menyerang.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 03 Agustus 2020  |  15:51 WIB
Pekerja memotong lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten. ANTARA - ASEP FATHULRAHMAN
Pekerja memotong lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten. ANTARA - ASEP FATHULRAHMAN

Bisnis.com, JAKARTA - Pabrikan baja nasional menilai stimulus tarif tenaga listrik (TTL) akan memperpanjang nafas arus kas pabrikan pada semester II/2020.

Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) menyatakan telah mengajukan penghapusan ketentuan pakai minimum 40 jam nyala sejak akhir kuartal I/2020 saat pandemi Covid-19 mulai menyerang.

"Otomatis nafasnya [pabrikan baja] lebih panjang. Kalau harus bayar 30 mWh [setiap minggu] padahal yang nyala hanya lampu, itu mempengaruhi kas kami," kata Wakil Ketua IISIA Ismail Mandry kepada Bisnis, Senin (3/8/2020).

Ismail menyatakan rata-rata pabrikan memiliki daya listrik sekitar 30 mWh. Dengan kata lain, pabrikan baja yang telah menghentikan proses produksinya terus membayarkan biaya listrik senilai Rp1,2 miliar per bulannya.

Adapun, utilitas industri baja nasional anjlok diserang pandemi Covid-19 ke kisaran 40-50 persen lantaran permintaan baja merosot akibat berhentinya proyek konstruksi pemerintah maupun swasta.

Oleh karena itu, Ismail berharap roda perekonomian nasional dapat kembali berputar selama stimulus TTL berjalan hingga akhir 2020.

Senada, Ketua Umum IISIA Silmy Karim mengapresiasi pemberian stimulus TTL, tapi perbaikan tata niaga baja masih menjadi kunci perbaikan arus kas industri baja nasional yang berkelanjutan. Namun demikian, lanjutnya, stimulus TTL dapat meringankan beban mayoritas pabrikan baja saat ini.

"Napas lebih panjang, tidak perlu ventilator. Napas bisa panjang karena biaya diringankan melalui kebijakan [keringanan tarif] PLN tadi," ucapnya kepada Bisnis.

Namun demikian, Silmy menilai peningkatan permintaan akan membuat pabrikan memiliki arus kas yang lebih tertata dan berkelanjutan. Menurutnya, hal tersebut bisa diraih dengan menjaga impor baja di dalam negeri.

"Kalau keran impor ditutup, otomatis utilisasi pabrik baja akan meningkat. Kalau utilisasi meningkat, artinya napas tambah panjang," ujarnya.

Sebelumnya, PLN telah menyiapkan mekanisme pemberian stimulus TTL dari pemerintah berupa pembebasan rekening minimum bagi pelanggan sosial, bisnis, dan industri dengan daya dimulai dari 1.300 VA ke atas. Jika pemakaian pelanggan di bawah kWh minimum, pelanggan cukup membayar sesuai pemakaian kWh-nya.

Adapun selisih dari jam nyala minimum terhadap realisasi pemakaian serta biaya beban dibayar pemerintah. Stimulus ini berlaku selama Juli-Desember 2020.

Pelanggan PLN yang menerima stimulus terbaru tersebut diperkirakan 1,26 juta pelanggan, terdiri atas pelanggan sosial 661.000 pelanggan, pelanggan bisnis 566.000 pelanggan, dan industri lebih dari 29.000 pelanggan. Kebutuhan dana stimulus tersebut Rp 3,07 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN listrik industri baja stimulus
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top