Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Virus Covid-19, Ini Nasib Pengembangan Biodiesel

Pemerintah tetap berkomitmen untuk melanjutkan pengembangan biodiesel kendati ada pandemi Covid-19.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 31 Juli 2020  |  16:31 WIB
Petugas memperlihatkan contoh bahan bakar biodiesel saat peluncuran Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30% pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, di Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Petugas memperlihatkan contoh bahan bakar biodiesel saat peluncuran Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30% pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel, di Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah menegaskan pengembangan biodiesel akan terus berlanjut meski di tengah pandemi Covid-19.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen untuk melanjutkan pengembangan energi hijau tersebut. Sepanjang implementasi B30, mampu menyerap Fatty Acid Methyl Ester 9,6 juta kilo liter (kl) dan menghemat defisit impor migas senilai US$4,8 miliar atau Rp62,7 triliun.

“Ke depan saya menargetkan implementasi B30 melalui campuran D100 sebanyak 10 persen menjadi B40 dirampungkan pada Juli 2021,” katanya dalam webinar pada Kamis (30/7/2020).

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kemenko Perekonomian Monty Giriana menjelaskan selama masa pandemi terjadi penurunan harga yang signifikan pada harga bahan bakar minyak berbasis fosil.

Kondisi itu berdampak cukup besar untuk pengembangan biodiesel karena terjadinya jarak antara harga indeks pasar bahan bakar (HIP) nabati dengan dengan HIP solar. Untuk itu, pemerintah perlu memberikan program tambahan agar pengembangan biodiesel bisa tetap terus berjalan.

“Beberapa hal yang sudah di-endorse yang berkaitan pertama kita sudah membuat aturan berkaitan dengan pungutan, pungutan atas hasil CPO waktu itu diatur sedemikian rupa, sekarang berapa pun harganya pungutan tetap US$55 dolar per ton,” jelasnya.

Sementara, Deputy CEO PT Kilang Pertamina Internasional Budi Santoso Syarif menjelaskan bahwa pihaknya mengatakan siap untuk pengembangan B40 yang akan rampung pada pertengahan tahun depan.

Namun, dalam pencampuran yang menggunakan D100 sebanyak 10 persen pada B40, nilai keekonomian bahan bakar nabati tersebut dipasaran akan menjadi tidak ekonomis. Nantinya, harga B40 yang dijual di pasaran akan setara dengan Pertamina Dex yang dijual seharga Rp10.200 per liter, sedangkan harga B30 dijual Rp9.400 per liter.

“Diharapkan ada insentif-insentif seperti keringanan pajak dengan kebijakan tadi bisa mendekati Dexlite kalau di-compare [B40] lebih kepada Pertadex,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi terbarukan Biodiesel
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top