Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah Menyelisik Bahan Baku Alternatif APD dan Masker Medis

Penggantian bahan baku tersebut dilakukan mengingat kain metblown dan spundbond tidak bisa didaur ulang dan berpotensi menjadi limbah medis.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  17:10 WIB
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). Kunjungan Menaker tersebut guna memastikan pekerja perempuan pada sektor industri tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif serta untuk mengecek fasilitas laktasi dan perlindungan kesehatan bagi pekerja terutama saat pandemi Covid-19. ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). Kunjungan Menaker tersebut guna memastikan pekerja perempuan pada sektor industri tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif serta untuk mengecek fasilitas laktasi dan perlindungan kesehatan bagi pekerja terutama saat pandemi Covid-19. ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Pemangku kepentingan sedang meneliti untuk mengganti penggunaan kain metblown maupun spundbond menjadi katun atau rayon.

Penggantian bahan baku tersebut dilakukan mengingat kain metblown dan spundbond tidak bisa didaur ulang dan berpotensi menjadi limbah medis.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) saat ini bekerja sama dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dalam meneliti penggantian bahan baku tersebut.

Seperti diketahui, kain metblown digunakan dalam bagian dalam masker dan bahan utama pakaian pelindung medis (PPM) yang dapat menghalangi masuknya virus, sedangkan kain spundbond merupakan kain luar masker medis.

"[Saat ini penanganan limbah] yang bermasalah baru masker medis, karena kuantitasnya banyak tapi ukurannya kecil. Sebentar lagi yang jadi [masalah penanganan] limbah adalah APD [alat pelindung diri] disposable," kata Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh kepada Bisnis, Rabu (29/7/2020).

Berdasarkan data Kemenperin per Juli 2020, telah ada 144 pabrikan APD medis sekali pakai dengan kapasitas terpasang mencapai 59,6 juta unit per bulan. Adapun, rata-rata utilitas 144 pabrikan tersebut mencapai 80,64 persen atau dapat memproduksi 48 juta unit per bulan.

Dengan kata lain, akan ada 432,65 juta unit APD medis sekali pakai yang diproduksi di dalam negeri hingga akhir 2020, sedangkan permintaan sampai akhir tahun diperkirakan hanya mencapai 11,7 juta unit. Alhasil, pabrikan APD medis sekali pakai lokal berpotensi mengekspor produknya sebanyak 420.91 juta unit pada tahun ini.

Di samping itu, saat ini telah ada 88 pabrik masker medis sekali pakai dengan rincian 80 pabrikan masker bedah dan 8 pabrik masker N95. Adapun, seluruh pabrikan masker N95 saat ini memiliki utilitas 100 persen dengan kapasitas produksi mencapai 5,1 juta unit per bulan, sedangkan pabrik masker bedah memiliki rata-rata utilitas di level 71,92 persen dengan total produksi 334,71 juta unit per bulan.

Adapun, permintaan masker N95 nasional hanya 17,06 persen dari total produksi hingga akhir tahun, sedangkan permintaan masker medis hanya mencapai 4,3 persen. Dengan kata lain, potensi ekspor masker N95 mencapai 39,12 juta unit pada tahun ini, sementara ekspor masker bedah menembus angka 2,8 miliar unit.

Elis mendata saat ini baru ada dua produsen kain metblown dengan total kapasitas produksi mencapai 585.000 ton per bulan. Menurutnya, jumlah produsen kain metblown akan bertambah pada Agustus 2020 menjadi tiga pabrikan.

Namun demikian, produksi tersebut masih jauh dibawah kebutuhan pabrikan APD dan masker medis nasional. Pasalnya, industri masker bedah saja membutuhkan sekitar 517.000 ton kain metblown per bulan.

Dengan kata lain, penelitian tersebut dibutuhkan untuk mengatasi kekurangan bahan baku di dalam negeri selain mengatasi potensi limbah APD medis di dalam negeri. Seperti diketahui, limbah masker medis telah menjadi masalah lingkungan di beberapa negara di Eropa.

"Jadi, untuk metblown kami coba ganti dengan katun ataupun rayon. Untuk spundbondnya [kami coba teliti untuk diganti dengan] polyester," ucapnya.

Elis menyampaikan hasil penelitian tersebut akan diterapkan untuk seluruh produk APD dan masker medis, termasuk masker N95. Elis berujar salah satu target penelitian adalah mencari serat katun atau rayon yang dapat menahan virus dengan ukuran 0,1 microporus.

Namun demikian, Elie mengaku akan terus mendatangkan investasi ke pabrikan metblown maupun spundbond selama penelitian tersebut masih belum rampung.

"Jika sudah [ditemukan pengganti metblown dan spundbond], saya akan bicara dengan industri yang sudah berinvestasi untuk tidak menambah kapasitas produksinya. Tapi, untuk saat ini, kita masih kekurangan bahan baku," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tekstil serat rayon
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top