Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Pariwisata Tertekan, Devisa US$6 miliar Melayang

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani menyebutkan penerbangan domestik turun 98,34 persen, penerbangan internasional anjlok 99,18 persen per Mei 2020.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 28 Juli 2020  |  16:37 WIB
Ketua Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia Hariyadi Sukamdani menjawab pertanyaan wartawan seusai memberikan keterangan pers mengenai dampak virus corona pada sektor pariwisata, di Jakarta, Kamis (12/3/2020). Bisnis - Triawanda Tirta Aditya
Ketua Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia Hariyadi Sukamdani menjawab pertanyaan wartawan seusai memberikan keterangan pers mengenai dampak virus corona pada sektor pariwisata, di Jakarta, Kamis (12/3/2020). Bisnis - Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani menjelaskan pandemi Covid-19 menekan dunia usaha, salah satunya industri properti perhotelan.

Dia mencatat okupansi hotel turun 14,45 persen, penerbangan domestik turun 98,34 persen, penerbangan internasional anjlok 99,18 persen per Mei 2020.

“Dampaknya sendiri, untuk devisa yang hilang kurang lebih US6 miliar. Hilangnya pajak retribusi kami perkirakan untuk pajak hotel restoran drop lebih dari 80 persen. Dan sampai Juni, 8.000 hotel restoran tutup [sehingga] kehilangan US$40 triliun-US$ 45 triliun, dan kerugian maskapai US$812 juta,” jelasnya Mid-Year Economic Outlook 2020, Selasa (28/7/2020).

Khusus untuk okupansi, Hariyadi menyebut rata-rata okupansi atau tingkat hunian perhotelan di Jakarta hanya 20 persen, Batam 10 persen, Bali 1 persen, Surabaya 15 persen, Makassar 8 persen, Yogyakarta 10 persen, Semarang 15 persen, Medan 10 persen, dan Malang 15 persen hingga pertengahan Juli 2020.

"Untuk resort hotel tingkat hunian sedikit lebih baik hanya pada akhir pekan," tambahnya.

Di sisi lain, kegiatan meetings, incentives, conferences and exhibitions (MICE) diakuinya  sudah mulai berjalan tapi kapasitas hanya 50 persen. Penurunan penerbangan dan mahalnya tes Covid juga membuat permintaan di daerah turun.

Lebih lanjut, dia menekankan penanganan Covid-19 yang tidak optimal di awal membuat kerugian di sektor ini menjadi lebih dalam.

“Kami sangat terpukul dengan penanganan kurang optimal adalah adanya pembatasan aktivitas yang langsung berimbas pada pergerakan masyarakat, penurunan permintaan dipengaruhi PHK, dan kekhawatiran masyarakat akan sebaran, serta perubahan perilaku masyarakat,” jelasnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top